
Dibaca: 472
Komentar: 15
1 dari 1 Kompasianer menilai Bermanfaat
Jumat malam (30/4), bercengkerama bersama teman-teman dan sekalian hotspotan di tempat ngopi dan dilanjutkan dengan main PS di rentalan langganan.
Sabtu pagi (01/5), masih main PS hingga jam 10 kemudian pulang dan tidur. Jam 6 sore kuterbangun dan kubuka facebook mobile dan twitter mobile. Di facebook, ada 19 notifications dan kutunda untuk membukanya, “Nanti sajalah”, pikirku. Tiba-tiba telepon berdering, marah-marah di seberang sana, bilang bahwa saya menghina pacarnya dengan kata-kata tidak senonoh di facebook. Oh ya? Saya tidak tahu sama sekali, karena saya tidak pernah menghina teman kecuali dengan maksud bercanda dan saya tidak pernah merasa bercanda dengan keterlaluan dan berkata tidak senonoh.
Saya pun segera ke warnet, dan kaget, status di facebook saya berkata yang tidak-tidak, booking cewek segala dan segala macam kalimat tidak pantas untuk dipublish lainnya. Di chat, saya segera mengobrol dengan teman-teman. Mereka semua terheran-heran dengan kelakuan saya tadi siang di chat. Tadi siang? Tadi siang saya tertidur, kataku.
Namun, walau saya tidak merasa melakukannya, dan memang bukan saya pelakunya, saya tetap meminta maaf kepada semua teman yang telah “saya” hina, dikata-katai oleh facebook saya karena yang melakukannya adalah “facebook saya”. Di sini saya menggunakan kata “facebook saya” karena memang bukan saya yang melakukannya, namun orang lain dengan menggunakan akun facebook saya.
Saat saya kira masalah telah kelar, tiba-tiba satu pesan masuk di inbox. Salah satu teman tidak terima karena “facebook saya” juga telah menghina pacarnya dan pacarnya telah melaporkan ini kepada pengacara pribadinya. Oh, tidak! Bukan saya takut karena saya bersalah, tapi saya takut karena saya tidak tahu siapa yang bersalah dan karena menggunakan akun facebook saya, maka sayalah yang akan kena akibatnya.
Saya pun mengirim sms kepadanya, berharap semua dapat diselesaikan secara kekeluargaan, meskipun saya tetap berkeras bukan saya pelakunya. Dia mengatakan akan dibicarakan dan mereka akan berusaha mencari pelakunya. Oh, bila memang bisa didapatkan pelakunya, saya akan sangat merasa bersyukur. Saya sendiri akan diminta untuk datang membicarakan masalah ini dan saya sendiri sangat berharap masalah ini tidak diselesaikan secara hukum. Saya merantau tidak dengan niat mencari masalah, namun mencari teman. Walau pun saya bodoh, saya tidak sebodoh itu untuk menuliskan status facebook membooking seorang teman yang akan dibaca ratusan orang. Saya masih punya harga diri untuk saya jaga, karena hidup di dunia adalah nama baik, bukan materi.
Ugh, saya hanya bisa melepaskan uneg-uneg saya di sini. Facebook, untuk sementara ini saya deactive-kan. Saya trauma, saya terpukul, namun saya tidak akan lari dari masalah. Bila masih ada yang ingin komplain, saya akan terima dengan tangan terbuka. Bila ada yang ingin marah-marah, saya siap, meskipun ini bukan kerjaan saya. Bila ada yang akan memproses secara hukum, saya siap, meskipun saya berharap ada penyelesaian secara kekeluargaan dan saya pun berkeras bukan saya pelakunya.
Uneg-uneg ini sampai di sini saja. Sesungguhnya hidup ini indah adalah salah satu peganganku dan saya akan tetap menjaga kalimat ini jangan sampai saya terkapar. Hadapi dengan senyuman, orang bersalah tidak pernah takut. (Tapi saya takut, apa kata orangtuaku nanti? Semoga beliau mengerti).