
adalah Social Media Head di Virtual Consulting. Antusiasme dengan dunia internet dan video game telah membawanya menekuni bidang internet/digital marketing. Selama berkarir di Virtual Consulting, Andi telah membawa Tupperware Indonesia menjadi The best Social Media Marketing Strategy in Asia Pacific 2010 versi Tupperware Worldwide serta menangani Toyota Yaris, Richeese, The Body Shop dan Rexona. Andi baru saja menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di London School of Public Relations - Jakarta dengan jurusan Journalism and Media Studies. http://www.virtual.co.id/blog/author/andi/
Dibaca: 894
Komentar: 12
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual
Setelah publik kita dihebohkan oleh pernyataan pedas Luna Maya terhadap pihak infotainment beberapa waktu lalu, kini isu pernyataan pedas kembali menyeruak di ruang maya. Dan kali ini datang dari seorang motivator handal, Mario Teguh, yang mentweet “Wanita yang pas untuk teman, pesta, clubbing, begadang sampai pagi, chitchat yang snob, begadang n kadang mabuk – tidak mungkin direncanakan jadi istri”. Pernyataan tersebut kontan menuai banyak kritik dari para pengguna twitter lainya (tweep). Sang motivator tersebut pun akhirnya memutuskan mundur dengan menutup akunya @marioteguhMTGW dan mengaku bahwa tulisan kontroversial tersebut diungkapkan oleh moderator, bukan dirinya. Beberapa pihak menyesalkan keputusan Mario Teguh yang buru-buru mundur dengan segera menutup akun Twitternya tersebut tidak lama setelah kritik bermunculan terhadap akun Twitternya. Benar kah langkah ini tepat dilakukan?
Twitter memang memampukan penggunanya untuk mengekspresikan ide, pengalaman, dan cerita melalui 140 karakter. Melalui jumlah karakter itu pula sebuah pesan disebarluaskan sesuai dengan jumlah follower yang dimiliki oleh sebuah akun. Makin banyak followernya, maka makin banyak juga yang terinformasikan pesan tersebut. Twitter memang menjadi sebuah media massa ketika seseorang memiliki jumlah follower yang begitu banyak seperti akun Pak Mario Teguh. Namun, bukan bearti aturan-aturan tradisional yang seperti dimiliki oleh radio dan TV juga berlaku disini. Karena, Twitter merupakan bentuk sebuah media dimana publik bebas memainkan kata-katasesuai yang ia rasakan dan pikirkan pada suatu hal. Masyarakat Indonesia tampaknya belum siap dengan paradigma User-Controlled Media dimana pesan dan makna ditentukan oleh khalayak luas saat ini. Masyarakat modern makin cerdas dengan tidak memberi pemahaman yang menyeluruh pada suatu hal yang berasal dari media mainstream. Kini eranya social media, dimana sebua isu dapat secara transparan dipertentangkan dan dinegosiasikan di media seperti Twitter ini.