

Internet adalah media baru. Sebuah media interaktif yang sangat potensial untuk mendekatkan diri kita pada orang lain. Melalui media ini kita mampu mempermainkan emosi orang yang membacanya. Mengapa demikian? Karena sarana interaktifnya membuat kita mempunyai keleluasaan untuk meyakinkan secara terus menerus bahwa tulisan kita memang sebuah realita. Selanjutnya melalui tulisan tadi akan berkembang terjalinnya hubungan emosional antara penulis dan pembacanya.
Berbicara soal hubungan emosional yang terjadi di dunia internet, ga ada contoh yang paling spektakuler selain peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Kita semua tentu masih ingat seorang blogger Kompasiana bernama Puriwati Purasari Andono yang mengidap kanker payudara. Tokoh ini pertama bergabung tanggal 16 Oktober 2009. Selama bergabung di Kompasiana dia hanya menulis 5 artikel. Tidak lebih.
Walaupun cuma menulis 5 artikel, tulisannya sangat menyentuh hati. Mengapa? Karena tulisannya begitu optimistis. Dia yang yang sedang menderita kanker payudara justru sangat optimis menghadapi hari depannya. Dia begitu percaya bahwa semangat hiduplah yang akan menyembuhkannya. Bukan obat-obatan dari dokter. Karakter Puri ini begitu kuat dan langsung bisa duduk di bangku VIP di hati semua Kompasianer.
Artikel pertamanya berjudul ‘Ups… Salah sangka!! Di publikasikan tanggal 25 oktober 2009. Artikel kedua “Siapa yang kasih Tuhan pahala atas kebaikanNya sendiri?” Ditulis tanggal 26 Oktober 2009. artikel ketiga “Jawaban Tuhan” tanggal 27 Oktober 2009. Tulisan keempat “Oktober Bulan Pink”28 Oktober 2009. Dan artikel terakhir adalah “Susi. Susu siji” juga tanggal 28 Oktober 2009.
Pada tanggal 31 Oktober 2009, Pepih Nugraha, Admin Kompasiana menulis bahwa dia mendapat pesan dari Kompasianer lainnya yang bernama Dr. Anugra Martyanto, dokter Kompasianer yang tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. Isi pesannya adalah: Puriwati Purasari Andono meninggal karena penyakitnya.
Pepih Nugraha keliatannya lumayan terpukul mendengar berita ini. Dengan segera dia menghimbau pada semua anggota Kompasiana untuk menulis tentang Puri. Tulisan tersebut nantinya akan dikumpulkan dan dijadikan sebuah buku. Tujuannya tentu bukan untuk menolong Puri tapi menularkan semangat Puri pada siapapun yang juga mengidap penyakit maut ini.
Berita ini juga sangat mengejutkan semua member Kompasiana lainnya, terutama bagi yang selalu mengikuti artikel anak ini. Banjir airmata pun tak terbendung. Bukan hanya perempuan, laki-laki yang tampangnya sangar-sangar seperti saya pun ikut mengucurkan airmata. Bukan hanya itu, seorang old soldier seperti Prayitno Ramelan pun sampai mewek tak tertahankan.
Kedukaan yang begitu mendalam membuat beberapa orang merasa perlu bertindak. Mereka berencana membuat Yayasan Puri. Tentu saja intinya adalah melanjutkan perjuangan Puri dengan cara menyemangati dan memberikan pertolongan baik itu moril dan matriel pada teman-teman senasib Puri.
Dari sekian banyak orang yang bersimpati pada Puri, ada seorang blogger yang mencurigai Puri adalah tokoh fiktif. Namanya Mahendra Senoaji. Dia menulis tanggapan di artikelnya Rosiyhttp://kesehatan.kompasiana.com/2009/10/26/sebuah-pesan-untuk-ceritapuri/
“oya..puri…maaf anda benar terkena kanker secara positif?maaf ternyata setelah saya telusuri anda bukan mahasiswa komunikasi UGM angkatan 2005 dan 2006 .. apa ini sebuah akun yang fiktif hanya untuk menarik perhatian dan simpati orang untuk mengetahui insight mendalam terhadap kanker payudara? jika memang iya… semua orang yang membaca cerita anda ini hanya sebuah fiktif saja…bahkan bisa2 anda tipu dengan cerita anda… maaf sekali jika memang forum ini fair bisa ditunjukkan sebuah privasi terhadap seseorang tentang sebuah arti kejujuran…jangn mengggunakan cerita seperti ini hanya untuk sebuah perlombaan saja. Perhitungkan langkahmu jika ingin memulai sebuah pekerjaan yang penuh tanggung jawab…”
Tentu saja tuduhan Mahendra membuat berang kompasianer lainnya. Dari semua reaksi yang muncul, saya cukup kagum sama Rosiy. Blogger perempuan ini yang biasanya paling ekspresif menyatakan perasaannya terhadap Puri justru tidak terpancing dan tetap bersikap bijaksana. Dia mengatakan sangat terkesan pada tulisan Puri.sehingga Rosiy tidak begitu mempermasalahkan apakah Puri itu tokoh fiktif atau bukan. Kanker Payudara adalah penyakit berbahaya, begitu kata Rosiy. Dia tetap semangat mendukung perjuangan Puri. Begitu juga bloger-bloger lainnya.
Nah sekarang pertanyaan saya. Bagaimana sikap kita semua bila ternyata Puri memang adalah tokoh fiktif? Seberapa besar kekecewaan kita terhadap Puri ini? Bisakah kita menerima dengan lapang dada bahwa: OK-lah dia adalah tokoh fiktif tapi yang penting kan semangatnya tetap positif. Yang penting kan efeknya juga positif. Alhamdulillah bahwa dia adalah tokoh fiktif karena kita ga butuh korban beneran untuk bersimpati pada penderita kanker payudara. Ada atau tidak ada Puri kan kita memang harus berempati pada siapapun yang mengidap penyakit tersebut.
Sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa Puri adalah tokoh fiktif?
Semoga kita semua memiliki dada yang benar-benar lapang dan kebijaksanaan yang besar. Saya harus mengatakan sejujurnya bahwa Puriwati Purasari Andono adalah tokoh fiktif.
Sekali lagi: Puri adalah tokoh fiktif!
Seperti dugaan Mahendra Senoaji, pencipta tokoh Puri melakukan semua ini demi sebuah lomba. Bukan lomba penulisan tapi lomba kreativitas yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I).
Lomba ini dinamakan Daun Muda Awards dan hanya bisa diikuti oleh praktisi periklanan yang berusia muda. Praktisi yang berusia 28 tahun ke bawah.
Sesuai brief yang dikeluarkan panitia, semua peserta memang diminta untuk mengampanyekan seorang tokoh fiktif yang nantinya bisa dicintai oleh banyak orang. Di sinilah panitia menantang para peserta untuk menggali kreativitasnya. Sayangnya di sini pula peristiwa berawal. Beberapa peserta entah mengapa rasanya kurang memahami brief dari panitia. Mereka mulai mengarang-ngarang cerita dan menghalalkan segala cara untuk merebut simpati para pembaca.
Saya pribadi sangat menyayangkan adanya peserta yang menggunakan negative campaign yang mungkin saja akan melukai sebagian dari orang yang membacanya. Karena itu saya sangat lega ketika mendengar bahwa para juri juga tidak memenangkan Puri dan peserta lain yang kreativitasnya satu spesies dengannya. Berikut saya kutip sebagian kalimat penutup dari Panitia Daun Muda Awards. Baca selengkapnya di: http://tinyurl.com/panitia-DMA
“Mereka yang tidak benar-benar memahami brief, logika, dan peradaban di social media menciptakan hoax, melakukan negative campaign, membuat kekacauan. Mencari jalan pintas demi terkenal dengan melanggar segala etika: ada yang mengaku mau mati, ada yang mengaku kehilangan anak, ada yang mengaku diperkosa. Menyebalkan!
Dan kami menarik garis tegas untuk membuang itu semua. Tak satupun kampanye negatif yang kami masukkan bahkan ke dalam daftar calon finalis (shortlisted). Sebab kami percaya, cara-cara semacam itu tidak akan pernah berhasil dalam jangka panjang. Kami meyakini, tetap ada wisdom dalam sebuah crowd, yang bakal menghukum setiap perbuatan yang menyebalkan. Kami tak sedikit pun ragu, akan ada sanksi sosial bahkan dalam pergaulan sosial yang cuma ditautkan dengan ID, nickname, dan sejenisnya.”
Begitulah sikap panitia yang tegas-tegas tidak mendukung bahkan menentang keras cara peserta yang melakukan negative campaign.
Seperti saya katakan di atas, media internet adalah media baru. Ada banyak dari kita yang belom mengerti aturan main, tata krama dan beretika di dunia maya ini. Ketidaktauan dan sikap spontan anak-anak muda menjelma menjadi sebuah kombinasi yang fatal. Keluguan mereka pada etika dan kurangnya pengalaman dalam menyikapi sebuah social media adalah titik awal dari peristiwa yang menyedihkan ini.
Sampai saat ini pun saya tidak pernah mengenal siapa pemilik akun Puri. Akan tetapi, saya telah mendapat konfirmasi dari sumber yang dapat dipercaya bahwa Puri adalah tokoh fiktif
Saya sebenernya ga ada sangkut pautnya dengan pihak Panitia Lomba ataupun dengan peserta Daun Muda yang menciptakan tokoh Puri ini. Akan tetapi sebagai seorang individu yang juga berkecimpung di dunia periklanan, saya merasa turut bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Karena itu saya meminta maaf kepada seluruh Admin dan member Kompasiana.
Akhir kata semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini. Marilah kita berupaya berpikir positif dan bijaksana. Marilah kita menggali kantong kita lebih dalam dan mengeluarkan semua cadangan maaf kita pada mereka. Dan saya berdoa semoga ke depannya peristiwa seperti ini tidak akan terjadi lagi.
Sebuah pembelajaran yang cukup mahal buat kita semua….[SIGH]

jadi bengong baca tulisan ini, terkesima..! takjub..! apalagi ya istilahnya, saya termasuk baru di KOMPASIANA ini, jadi ketinggalan berita ttg Puri.
jujur aja sangat disayangkan jika ada oknum yg merenyuhkan perasaan orang dengan cerita2 fiktif yang dibuat sedemikian rupa sampai seolah benar ada dan mendapat simpatik yang luar biasa. semoga cerita ttg Puri ini bukan spt prasangka yg dituduhkan, semoga Puri benar adanya dan sdh kembali pada sang Pencipta.
saya jd ingat dulu di 1 millis kita dibuat menangis ikut prihatin dan semua anggotanya tiap hari mengirimkan tulisan2 yang memberi semangat pd seorang anggota yg kita kenal baik via tulisan2nya, dia bercerita hidupnya sdh divonis tdk lama lagi krn dia juga terkena kanker (lupa organ mana yg dia bilang menderita) dia secara detail menceritakan kekuatirannya akan anaknya, istrinya sampai kita sedih sekali akan nasibnya. dan ternyataaaaaaaaaa setelah berhasil mengharu biru perasaan teman2 semillis, dia tulis bahwa dia baik-baik saja, yg kena kanker adalah si X yg sdh lama meninggal dan sebagainya.! semua anggota millis kecewa padanya.! banyak yg menghandrik dan mencaci, tp lbh banyak yg diam menjauh dan tdk pernah mau merespon lagi tulisan2nya.
jadi intinya, sangat menjengkelkan memang jika perasaan kita dipermainankan, semoga tidak ada lagi orang yg menggunakan fasilitas tulis menulis utk mempermainkan perasaan orang.
salam kenal dan salam bahagia untuk semua
+1
-1
Iya betul. Semoga ga terjadi lagi deh. Insya Allah.
+1
-1

Terlepas apakah Puri adalah benar seorang Puri atau hanya tokoh rekaan buat saya tidak masalah. Melalui Puri dan Kompasiana saya bisa mengemukakan suara hati dan simpati saya kepada penderita kanker dan keluarganya. Melalui Puri dan Kompasiana juga semangat persaudaraan timbul dan saya bisa merasakan perasaan orang lain. Melalui Puri juga saya diingatkan untuk melakukan check up so it is not a big deal for me ^_^
+1
-1
Iya Rosiy. Kan udah saya sebutin juga sikap kamu di artikel ini. Kamu memang hebat! Bangga saya bisa betemen sama kamu.
+1
-1

Khusus untuk saya, yang memang ‘berpenderita’ mirip-mirip sama, soal ada tidaknya seorang Puri ‘yang betulan’ tidak jadi soal. Sebab saya tahu, memang seperti itulah sebuah perjuangan untuk kesembuhan…,
Ada motivasi semangat yang besar, juga empati bersama, dan begitu pulalah perasaan kita, bila memang kehilangan seseorang nantinya.
+1
-1
Semangat dan ^_^ akan selalu saya pakai sebagai simbol dukungan saya kepada penderita kanker. Ayo Mbak Linda tetap semangat ^_^
+1
-1
Wah hebat2 nih para kompasianer. Ngebanggain banget cara menyikapi semua ini. Artikel ini sebenernya udah saya bikin beberapa hari yang lalu tapi saya selalu ragu2 untuk ngeposting karena takut ada reaksi ga seperti yang saya harapkan. Setelah melakukan sholat malam, akhirnya saya memutuskan untuk mengirim artikel ini karena semua orang berhak ,menerima kebenaran. Dan alhamdulillah kalo semua menyambutnya positif.
+1
-1
Kenapa begitu Lintang? sebagian orang bilang saya pengadu, sebagian lain menipu. Saya sebenernya bisa aja dia seribu bahasa mengenai malasalah ini. Tapi ga bisa! Saya adalah bagian dari Kompasiana, saya adalah teman2 teman kalian, karena itu saya memutuskan semua teman saya di Kompasiana berhak tau kebenarannya.
+1
-1
Kebenaran itu kadang kadang pahit jadi untuk menyampaikannya pasti deg-degan juga, nah saya bangga karena uda Budiman memilih untuk menyampaikan ini ke kami….. Meskipun memang pahit, paling tidak kita masih bisa segera mencari penawarnya.
Bukankah itu lebih baik daripada tetap merasa manis dalam kebohongan?
+1
-1
Sepahit apapun peristiwa, setelah lama berlalu akan terasa manis Lintang.
+1
-1

bagi saya, tokoh fiktif atau nyata dalam kasus ini tidak masalah, meskipun saya yakin ada. Yang penting adalah dampak positif dari tulisan para kompasianers. antara lain penyadaran akan pentingnya pencegahan dan deteksi dini thd penyakit kanker dan tingginya solidaritas antar sesama kompasianers dalam menanggapi kasus ini.
menurut saya, admin kompasiana sudah meminta transparansi dan kejujuran para kompasiansers dengan melalui register setiap mau komentar atau mau nulis. dalam kaitan transparansi dan kejujuran ini juga, bagaimana kalau penulis (budiman hakim?) mengganti bahasa di profilnya dengan bahasa yang mudah dipahami para kompasianer lainnya. salam kenal tks
+1
-1
Betul! Seperti yang saya tulis di atas, kita ga membutuhkan korban beneran untuk berempati pada siapa pun yang mengidap penyakit berbahaya. Saya seneng banget banget banget karena reaksi temen2 positif sekali dalam menyikapi hal ini.
+1
-1

Mmmmmmmmmm hal ini tidak boleh biarkan, karena kita tidak tau siapa yang melakukan maka dunia periklanan Indonesia yang diwakili BH harus bertanggung jawab karena sudah menyalah gunakan kepercayaan masyarakat Kompasiana dan dengan ini saya mengusulkan agar Kompasiana meminta dunia periklanan di Indonesia untuk lebih berETIKA, can you do it BH?
+1
-1
Ini masalah oknum Ros. Statement panitia dalam artikel di atas telah membuktikan bahwa dunia periklanan sangat mengedepankan etika.
+1
-1

Pertama baca bengong…..
Jadi yang selama ini ikut saya tangisi beberapa hari (gak cuma sehari lho Pak Bud) ternyata gak beneran ada.Tapi terlepas dari nyata atau fiktifnya tokoh Puri saya pribadi mengambil banyak hikmah dari postingannya. Pada ( waktu itu saya sedang manghadapi masalah yang cukup berat (jadi kerjaannya nangis mulu), tapi dengan membaca postingan dia saya jadi terbawa untuk berpikir positif. Lha wong dia yang punya masalah dan berhubungan dengan hidup mati saja masih bisa semangat masak saya yang cuma begini aja nangis mulu sich., akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menangis dan belajar berpikir rasional untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi.
+1
-1
Saya yakin semua airmata yang sudah terlanjur tumpah tetap ada gunanya Erwahyuni. saya bangga banget banyak kompasianer yang mngambil hikmah dari peristiwa ini secara positif. Gusti Allah mboten sare.
+1
-1

Uh, kalau memang tokoh itu tidak nyata, kok pendek kali ceritanya ya? Hanya 5 buah…mbok yang 10 sampai 20 an kek….
+1
-1
Karena deadlinenya cuma sampe tanggal 31. Setelah tanggal itu, konten dari URL itu ga boleh diotak-atik lagi. Gitu peraturannya dari panitia.
+1
-1

Kalau bukan pengalaman langsung, berarti dia harus melakukan riset untuk istilah-istilah medis yang ada dalam tulisannya.
+1
-1
Coba baca komen DR Anugra di bawah. Saya rasa itu menjawab pertanyaan kamu.
+1
-1

Kaget juga dengan berita om Bud ini bila benar adanya. Tapi saya secara pribadi salut dengan tokoh Puri, karena bisa saja ia nyata, ada dan dialami oleh beberapa orang yang ada disekitar kita. Dan betapa pun ada palajaran berharga yang bisa dipetik darinya; nyatakah dia atau fiktifkah. Dia telah menularkan semangat hidup dan bagaimana manjalani kehidupan ini di tengah beratnya ujian dan cobaan.
Oh ya, ada satu tulisan saya kembali diinspirasi oleh salah satu tulisan di bikambon: http://filsafat.kompasiana.com/2009/11/02/jangan-sampai-gagal-sebagai-orang-tua/
Terima kasih atas inspirasi dan tulisan-tulisannya. salam hangat!
+1
-1
Saya nulis atikel ini maksudnya juga begitu. supaya semua orang bisa mengambil hikmahnya. Saya rasa Tuhan sedang menguji kesabaran dan kebijaksanaan kita.
+1
-1

Setidaknya pun, saya sudah membuat satu puisi yang sampai kini masih saya baca berulang-ulang, Surat Untuk Puri. Saya bayangkan teman baik saya yang baru-baru ini juga ’selesai’ karena penyakit yang mirip… Puri selalu saya bayangkan adalah Ie’ie.., yang saat saya kelas 6 SD syuting iklan Susu Indomilk tahun ‘70 an di halaman depan rumah pak Nuradi Intervista, dia menontonnya dengan takjub dari sepeda mininya.
Ketiadaan Ie’ie beberapa waktu sebelum cerita fiktif Puri…. dan saya memang larut ke dalamnya…
+1
-1
Linda, anytime you need shoulder to cry on, let me know. OK?
+1
-1

Kisah blogger yang meninggal (fiktif) bukan yang pertama kali terjadi. Tahun 2005 pernah juga dihebohkan dengan adanya berita ttg blogger Solo yg meninggal setelah mendapatkan mimpi buruk. Ternyata semuanya adalah HOAX.
Segi positif dari kisah PURI adalah kita lebih aware terhadap penyakit kanker yang mematikan, tapi dari segi nettiquette bagaimana???, mudah2an Pak Admin bisa memberi penjelasan.
+1
-1
Betul. Semoga peristiwa ini semakin membuat kita lebih tangguh, bijak dan sabar.
+1
-1

Saya suka dengan cerita puri, dan memang hidup itu sekedar lakonan, tapi ketika ternyata semuanya fiktif tetap saja ada ketidak sukaan saya. BH pun seringkali cerita yang agak tidak masuk akal, dan bikin pertanyaan besar di hati saya ini benar pengalaman beliau atau bukan, tapi itu bukan masalah besar, karena idea-ideanya mengarah pada menghibur dan khayal, bukan tragedi yang memainkan perasaan. Tapi eksploitasi cerita Puri kemarin benar-benar menguras simpati, kesedihan dan langkah-langkah nyata (gerakan pita pink, upaya penulisan tentang Puri) yang pada ujungnya adalah tiada ……… Yah setidaknya kita belajar dari pengalaman-pengalaman seperti ini, dalam hidup banyak sandiwara dan kebohongan, yang kadang dihalalkan dan bisa diterima dengan alasan untuk kebaikan atau ada nilai nilai kebaikan.
+1
-1
ya suka ga suka, puri telah membuat hubungan sesama kompasianer jauh lebih dekat dari sebelomnya. Bukan begitu?
+1
-1

positifnya: tokoh fiktif ini telah menyadarkan kita bahwa hidup itu tidak boleh menyerah pada keadaan. selalu bersemangat dan memberi tau tentang bahaya kanker payudara
siapapun yg menciptakan tokoh fiktif ini, semoga Alloh memberikan balasan kepadanya.
+1
-1

Maaf, saya harus jujur bahwa saya kurang bisa menerima hal-hal semacam ini. Semua komen saya tentang Puri dan berita duka tentang dia langsung saya singkirkan semua dari wilayah profil saya. Kalau hanya cerita fiktif saja, banyak sinetron Indonesia sudah berlimpah ruah untuk mewakilinya, dan sungguh amat tidak lucu bahwa Kompasiana akan mendedikasikan sesuatu untuk sosok fiktif yang sudah menipu banyak orang ini. Betapa hal itu akan menimbulkan bahan tertawaan banyak orang lainnya, seolah-olah kita sudah kehilangan akal sehat gara-gara hanyut dalam cerita fiktif semacam itu, apapun segi positip di dalamnya. Sekali lagi ma’af, saya enyahkan semua urusan tentang Puri. Misi menyangkut Kanker (kanker apa saja) setuju untuk diteruskan, tapi jelas tanpa nama Puri di dalamnya. Salam.
+1
-1
Pak Sis12. Dari lima postingan Puri di Kompasiana, tidak ada satupun komentar yang saya berikan. Saya membaca kesemuanya, lantaran itu berkaitan dengan apa yang pernah dialami almarhumah ibu saya sendiri. Biasanya, setelah membaca posting seorang penulis di Kompasiana, rasanya tangan saya gatal jika tidak mengomentarinya. Entahlah waktu itu, saya hanya membaca secara cepat postingan dan komen yang muncul. Mungkin ada perasaan tertentu (ingat ibu) sehingga tidak ikut komen.
Barulah setelah mendapat kabar dr Anugra, jika adik Puri (fiktif) dinyatakan meninggal saya baru ikut komen. Jadi memang, tidak etis seseorang membuat “ulah” di media sosial macam Kompasiana tanpa memperhitungkan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
+1
-1
Itu sebabnya saya nulis artikel ini. Coba bayangin seandainya buku tentang Puri udah dicetak. lalu seseorang mendapat tugas untuk mengantarkan buku itu ke keluarganya….
+1
-1

Pak CH. Saya menguatkan atas isi postingan di atas, bahwa tokoh Puri adalah fiktif, palsu dan jadi-jadian. Sudah saya baca semua tautan Blog Citra Pariwara yang Pak CH cantumkan.
Beberapa waktu lalu, di inbox pesan akun Facebook saya juga ada pesan berantai mengenai seseorang adik angkatan kuliah (katanya masih aktif) yang tengah “sekarat” dan membutuhkan biaya pengobatan. Saya tidak menanggapinya karena tidak kenal dekat dengan si pengirim pesan, juga data-data yang dikemukakan. Jangan-jangan media sosial macam Facebook dsb, saat ini juga disalahgunakan orang untuk mengeruk keuntungan?
Masukan untuk Admin Kompasiana, saya rasa jangan sampai “hal memalukan” ini terulang kembali. Sudah cukup sekali saja! Dan registrasi dengan nama jelas beserta foto jelas (kecuali orang yang sudah marketable) musti lebih diperketat kembali.
Sedangkan untuk pemilik akun Puri, bila membaca komen saya ini: dengan kelapangan dada sudilah mempertanggungjawabkan perbuatannya yang kurang etis itu.
Sedangkan pelajaran penting buat Kompasianer: diperlukan kewaspadaan tinggi bila akan memberikan komentar atas suatu postingan Kompasianer yang identitasnya dirasa diragukan.
Eit, jangan-jangan saya juga fiktif
nb: Buat Pak CH. Mana Pak, ditunggu konfirmasi wawancandanya. Sambil dengerin lagu-lagu lama Elvis Presley, The Cats, Aphrodite’s Child atau Simon Garfunkel pun saya ok-ok saja. Nyanyi juga agak bisa. Siapa takut Pak?
+1
-1
Pak CH? Emang nama saya Cudiman hakim? Fiktif dong itu mah….
+1
-1
Maaf Pak BHK. Ini juga fiktif
:)
Saya diingatkan Lintang, kok Pak Budiman Hakim dikomen ditulis Pak CH. Saya jawab itu kan beda tipis: C dan B saja. Maklum Pak, komennya sudah lewat pukul Nol-nol.
+1
-1
Haahahaha gapapa. Saya juga becanda kok. Tapi aneh juga ya kalo nama saya Cudiman Hakim?
+1
-1

Jadi semangat Puri harus dilanjutkan gak nih?
+1
-1
lanjutin aja ceu. toh positif kan? apapun motif si pembuat tokoh, dia telah berhasil menggiring opini kita untuk lebih peduli terhadap sesama.
negatifnya: alangkah berdosanya orang yg telah membuat kebohongan yang menggemparkan itu. mengobok2 sisi humanis semua kompasianer, bahkan yang sekaliber pak pray pun ikut menjadi korban. semoga Alloh mengampuni dosa nya
+1
-1
Kan kita menerapkan azas praduga tidak bersalah dulu alias gak prejudice gitu lho. Artinya rumah kita emang sehat terbukti banyak kompasianers yang masih punya hati nurani. Soal dosa mah itu urusan yang bersangkutan dengan Allah tapi saya yakin koq dia pasti merasa bersalah lah lah lah jadi tergantung kepribadian orangnya mau minta maaf apa gak. Kita sebagai orang yang mempunyai a big heart ya mari kita maafkan aja deh toh kita sudah mendapatkan hikmahnya. Penalty buat BH dan dunia periklanan ya tetap harus dilakukan juga dengan cara meminta dunia periklanan untuk mempunyai standar ethic dalam melakukan aktivitas periklanan. Kalau gak ngerti ethic ya susah dong ^_~
+1
-1
bener ceu. itu semua larinya ke hati nurani masing2. saya sendiri masih belum percaya hehe…
ini PR buat praktisi periklanan supaya tidak semata mengejar materi dan komersialitas dengan mengabaikan etika
+1
-1
Rosiy, ini saya kutip lagi komentar dari panitia lomba itu :
“Mereka yang tidak benar-benar memahami brief, logika, dan peradaban di social media menciptakan hoax, melakukan negative campaign, membuat kekacauan. Mencari jalan pintas demi terkenal dengan melanggar segala etika: ada yang mengaku mau mati, ada yang mengaku kehilangan anak, ada yang mengaku diperkosa. Menyebalkan!
Dan kami menarik garis tegas untuk membuang itu semua. Tak satupun kampanye negatif yang kami masukkan bahkan ke dalam daftar calon finalis (shortlisted). Sebab kami percaya, cara-cara semacam itu tidak akan pernah berhasil dalam jangka panjang. Kami meyakini, tetap ada wisdom dalam sebuah crowd, yang bakal menghukum setiap perbuatan yang menyebalkan. Kami tak sedikit pun ragu, akan ada sanksi sosial bahkan dalam pergaulan sosial yang cuma ditautkan dengan ID, nickname, dan sejenisnya.”
Kutipan panitia di atas jelas2 membuktikan bahwa periklanan sangat menjunjung etika. Perbuatan oknum ini jelas titentang keras oleh panitia. Kenapa kamu kepikiran mau kasih penalty segala buat saya? Memang siapa kamu berani2nya menghakimi saya?
+1
-1
Anggota masyarakat yang hati nuraninya terluka akibat perlombaan tsb ^_^
+1
-1
Iya Teh……
Semangat Puri (fiktif) bener2 udah tertanam didalam sanubari ku..
itu juga yang membuat aku bangkit untuk terus semangat.
Izzah ga tau apa maksud dari si pembuat tokoh, tapi mudah2an dia tidak bermaksud buruk.
+1
-1
Terus hubungannya sama saya apa? Kalo ada wartawan kampung menipu orang lain, apa kamu mau kasih penalty ke Pepih Nugraha? Cuma karena sama2 di dunia jurnalistik?
+1
-1
Kan BH orang besar di dunia periklanan dan cuma BH yang kita kenal di sini. BH juga yang mendapat amanat untuk buka rahasia dan sekarang mendapat amanat baru untuk disampaikan ke dunia periklanan. Postman ceritanya.
Jangan ngambek dong ntar saya kirim hadi buat nganterin semur jengki ^_^ berpelukan yuk tapi eh nanti dimarahin si BH Jr.
+1
-1
Uda………uda……..
Jgn pada ESMOSI…..!!
kita ambil hikmahnya aja!! dan kita doakan mudah2an pelakunya itu dibukakan pintu hatinya agar mau mengakui kesalahannya di depan publik. dengan gagah berani.
Trs kita semua harus bisa memaapkannya dan mengingatkan orang itu agar tak mengulanginya lagi, ato mungkin tidak ada lagi org2 yang seperti itu.
menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yg dia mau.
Udah ya…. jgn pada berantem!!!
+1
-1

btw, coba kita tanya dulu Imam Adi Karyanto. beberapa waktu lalu saya pernah ngobrol sama Imam, katanya selama 2 mingguan sebelum “PURI fiktif” ini meninggal, dia pernah kontak2an. terus katanya teman kantornya imam itu adalah teman kakaknya puri.
kita coba crosschek dulu yuuk.
+1
-1
Sono gih trace jejaknya kalau udah ketemu suruh ke NZ biar gua tatar the code of ethic! Eh tapi gua udah jalanin belum ya the code of ethic? Masa mau natar orang tapi kalau saya gak menerapkan prinsip dari ethic ya sama aja bohong alias munafik ^_~
+1
-1
hahahaha. bentar ya gw lg konfirmasi ma imam. dia bisa jadi kunci kasus ini (jiaahhhh dah kayak dektektip aja gw). immam pernah ngobrol OL melalui fasilitas facebook chat.
+1
-1
Yak betul. Sebaiknya dicek and ricek. Jangan sampai ada fitnah.
+1
-1
setujuuuu………..!!
Ayoo abang baksoo!!! semangat untuk beralih profesi jadi detektip!!
hoyoo…hayooo… aku mendukungmu!!
+1
-1

Aduh!, saya terperangah membaca postingan Bang BH ini, Kok tega ya yang melakukan ini semua???, Saya lantas berpikir ulang…,lalu siapa yang mengirimkan ‘Pesan’ melalui Inbox pada forum Konsultasi di media Blog Pribadi saya itu, Padahal saya membuka Blog khusus Konsultasi ini, memang untuk semua pasien pasien saya yang menderita Kanker dan Pasien Pasien lainnya secara Umum, akan saya coba telusuri, sepertinya permainan mereka sangat cantik sekali, mereka sudah masuk kedalam ranah ‘empaty’ saya sebagai dokter yang bekerja dengan resiko kematian seorang pasien yang menderita kanker ganas ini, dan saya akui mungkin karena saya selalu melihat setiap hari detik detik terakhir kehidupan buat pasien pasien saya yang mengalami keganasan itu, maka logika saya dikalahkan dengan rasa empaty yang dalam ini, SUNGGUH KETERLALUAN BILA HAL INI BENAR BENAR TERJADI !!!.
Saya terpancing dengan komentar ibu Limantina, yang pasti saya yakini, mempunyai empaty yang sangat dalam pada penderita kanker, karena adik kandungnya juga menderita kanker, nanti ya Ibu Limantina, saya akan pelajari kasus ini, bisa saja tokoh dibalik kisah Puri ini, mempelajari betul betul secara psikologi tentang kanker dari tulisan-tulisan atau testimoni para penderita kanker yang sesungguhnya, karena di blog pribadi saya, banyak yang berkonsultasi tentang kanker ini, dan mengenai Istilah medis atau istilah yang berkaitan dengan kanker ini, bisa sangat mungkin di adopsi olehnya, guna melengkapi Opininya secara Psikologis, Sungguh keterlaluan sekali!, saya menjadi sangat marah dan marah sekali tentang kejadian ini, sempat membuat saya geram, bagaimana bila si pelaku tindakan ini, nantinya akan benar benar dihukum oleh Tuhan dengan penyakit kanker yang sesungguhnya, Baru dia kapok ! dan menyesal. sehingga baru dia bisa merasakan betapa sedihnya perasaan si penderita kanker yang selalu dihantui saat saat kematian menjemputnya, BENAR BENAR KETERLALUAN, BERANI BERANINYA MEMPERMAINKAN PERASAAN PENDERITA KANKER HANYA UNTUK KESENANGAN YANG TAK ADA GUNANYA INI…
Terima kasih bang Budiman Hakim (BH) atas Informasinya ini, saya pribadi mohon maaf sebesar besarnya, karena empaty saya pun dipermaikan oleh Si Pelaku ini.
Astaghfirullah…
Anugra Martyanto
+1
-1
Dok,
Tadinya saya mengasumsikan bahwa di antara Kompasianer memang ada yang kenal langsung Puri. Lagipula ada fotonya kan dalam profilnya.
Ya, kalau betul tokohnya fiktif, itu jadi pelajaran. Saya hargai sikap Rosiy tetapi saya juga geram karena apa yang dilakukan tokoh itu kalau memang fiktif bisa berakibat kurang baik bagi para penderita kanker.
Kalau memang fiktif, ya untunglah sampai di situ saja kisahnya tidak melebar ke mana-mana.
Apakah masih perlu memastikan ulang apakah Puri itu benar-benar fiktif atau tidak ya? Saya bukan meragukan penjelasan Bung Budiman Hakim. Siapa tahu tokoh itu punya alasan-alasan tertentu mengapa dia menyebutkan dia kuliah di UGM.
Bisa jadi telah lama Puri tidak masuk kampus karena sakit dan orang yang kebetulan sedang bertugas yang ditanyai ileh temannya Bung Budiman kebetulan orang yang tidak begitu tahu. Kan ada saja orang-orang yang begitu.
Seberapa dalam proses pencarian yang dilakukan. Bisa saja ada pegawai baru di sana yang memang nggak tahu siapa itu Puri.
Jangan pula kita salah dua kali, ya kan.
Salam!
+1
-1
Dr Anugra: saya sangat bersimpati pada Anda. Saya ngikutin tulisan Anda yang keliatan begitu peduli sama orang yang dilanda penyakit berbahaya seperti kanker. Saya terharu Anda sam merlu2in nelpon Pepih mengabarkan berita kematian Puri. Saya yakin ke depannya Anda akan jadi dokter hebat. Percayalah, Dokter yang hebat itu bukan dokter yang jago, lulusan luar negeri, kerja di RS besar. Buat saya dokter yang hebat itu adalah dokter yang kepduliannya besar seperti Anda. Insya Allah.
+1
-1
setuju…dokter satu ini baik banget dan cukup informatif serta selalu ada kata2nya yang bikin kita lagi sakit jadi semangat. so far, walau hanya melalui dunia maya, apa yg direkomendasikan Alhamdulillah berhasil menyembuhkan penyakit(atas izin Yang Maha Kuasa tentunya).
semoga pak dokter satu ini selalu diberi kesehatan oleh Allah sehingga bisa menyembuhkan dan menyemangati hidup lebih banyak manusia. amien…
+1
-1
Ayah Anugra :
Tetep sabar ya Ayah, jgn sampai karena masalah ini tar ayah jadi berkurang semangatnya!!
SEMANGAT & KEPEDULIAN Ayah masih kami butuhkan.
+1
-1
Dok, saya menilai sisi positifnya banyak juga. khususnya menyadarkan para kompasianers akan bahaya kankerr payudara. meski demikian integritas moral/ kejujuran kompasianers di atas segala-galanya. salam
+1
-1

Kalau memang benar , ini sih namanya penipuan ! Tidak boleh terulang lagi di Kompasiana tercinta.
+1
-1
Mungkin awalnya ketidaktahuan lalu melampaui garis etika sehingga berujung jadi penipuan.
+1
-1

Wah kasihan sekali yang menciptakan tokoh Puri ini ya, begitu terobsesi untuk menjadi pemenang di suatu kompetisi tapi malah menjadi pecundang seumur hidup.
Saya katakan seumur hidup karena saya tidak akan menghapus artikel yang saya tulis buat “Puri” ini sehingga si pencipta tokoh ini atau siapapun yang mengenal dia bisa membaca itu kapanpun…… Hukuman dari dalam diri sendiri itu lebih berat ditanggung lho, daripada sangsi sosial (saya tidak melaknat tapi saya hanya mengingatkan bahwa orang orang yang tidak perduli dengan perasaan orang lain itu akan terisolir dengan sendirinya seperti yang terlihat di setiap sejarah peradaban)
Artikel Puri itu saya buat dengan cinta dan saya yakin “kebodohan” saya ini akan dimaklumi siapapun yang pernah tahu bagaimana perasaan cinta bisa membuat kita tidak rasional…..
Semoga Allah swt melindungi niat baik kita yang ingin meneruskan semangat “Puri” ini kepada siapapun termasuk para penderita kanker yang sebenarnya.
Terimakasih sudah sharing informasi yang bermanfaat ini ya, da… ![]()
+1
-1
Saya rasa pemilik akun Puri ini juga lagi tersiksa peasaannya. Tapi gapapa, ini justru bagus juga buat anak2 itu sebagai pembelajaran hidupnya. Semakin banyak cobaan akan membuat kita semakin tangguh.
BH
Ps maap oot ya Lintang. Seharusnya ‘Sanksi’ bukan ’sangsi.’ Kalo ’sangsi itu artinya ragu2. Hehehehehehe….
+1
-1
Iya ya…. hi hi hi ….
Thanks dah dibetulin….. ![]()
+1
-1
Sebetulnya kamu udah tau cuma salah ketik gara2 emosi ya? hehehehe….
+1
-1

Penulis cerita fiktif alias palsu tentang Puri hanya untuk suatu perlombaan, tidak ada bedanya dengan pengemis pinggir jalan yang mengikat kakinya dengan perban dan beberapa tetes obat merah. Tujuannya hanya memperoleh sekeping uang limaratusan dari pengendara yang lewat. Sungguh perbuatan yang memalukan. Perlu ditangisi dengan doa.
Salam…………..
+1
-1
Betul. Karena itu mari kita doakan semoga dia diberi penerangan dari Allah SWT. Amin3X
+1
-1

Bagi saya…. biarlah kita belajar dari kesalahan ini…. tetapi ini membuktikan bahwa Kompasianer memiliki hati yang tulus dan sangat luar biasa…
Biarlah semangat untuk mendukung Pita Pink dilanjutkan… karena ada banyak penderita lain yang sangat membutuhkannya…
Ayo semangat!!!! Jangan putus asa dan berhenti hanya karena kebohongan seorang Puri!!! Lanjutkanlah perjuangan para Kompasianer dalam membantu sesama!!! Ayoooo!!!!!
+1
-1
Setuju Mariska. Ayo temen2…tetep SEMANGAAAATTTT!!!!!!!
+1
-1
Iya pak BH, karena baca komentar2 ttg Puri dan artikel2 lainnya, saya jadi aware loh kalau ternyata pengetahuan tentang kanker ternyata dibutuhkan juga dan juga banyak yang mendukung gerakan pita pink (saya nggak ngira banget loh, hehe..dasar nggak gaul)..saya jadi tergerak deh buat bikin tulisan yang ‘user-friendly’ mengenai kanker ![]()
+1
-1

Ehmmm….Ada satu kelegaan setelah tahu bahwa tokoh puri dalam kompasiana ini adalah fiktif (padahal saya sempat menangis sedih bgt loh waktu itu). namun selain kelegaan saya pribadi juga ada rasa kecewa yang mendalam kepada pembuat tokoh puri tersebut. Bayangkan berapa orang yang dia buat sedih, terharu menangis serta tidak menutup kemungkinan ada juga yang kecewa seperti saya. Pernahkan sang pembuat karakter puri ini berpikir dampak negatif yang di timbulkan karena ulahnya ini?? kemungkinan besar sumpah serapah dalam hati kali ya.. Nah klo udah begitu apa enaknya berkarya dengan banyak sumpah atau doa yang tdk enak dari banyak orang, bukan buat kita tambah maju malah akan membuat moral kita makin terpuruk.
please untuk anak muda (termasuk saya loh, kan umurnya masih dibawah 28 hehehe..) tolong untuk berkreativitas dengan cara yang benar dan jujur, bagaimana pun juga kejujuran itu akan membuat hasil dari kreatifitas kita menjadi sesuatu hal yang manis dan akan selalu dikenang banyak orang dengan hal yang positif..
contohlah abang kita yang satu ini, bang budiman… Tulisannya lucu,banyak yang akan menunggu karya beliau walau kadang ada cerita yang memalukan dirinya sendiri seperti cerita “saya diganggu homo” tapi toh kita yang menanggapi malah merasa terhibur artinya kesan yang kita dapat adalah positif, tul ga..
so beranilah untuk mendapatkan ketenaran dengan cara yang benar, jujur dan kreatif.. ![]()
+1
-1
Saya salah satu yang ikut nangis loh. Malah sempet saya doain saat sholat. Tapi gapapa, ga ada yang salah kok untuk berbuat baik. Apapun alasannya.
+1
-1
tul bgt bang bud..tp walau gitu tetap aja menyesakan dada pas tau kebohongan yg diciptakan olehnya itu… walau begitu kita ambil sisi positifnya aja deh… semoa si pembohong tsb tidak mengulangi kesalahanya lagi ditempat lain
+1
-1

Sungguh, pertama kali membaca posting ini, batin saya terluka. Sedih sekali.Dengan sepenuh hati dan rasa empati tinggi saya dan kawan-kawan Kompasianers lain (terutama Pak Dr.Anugra yang begitu tulus dan spontan melakukan aksi kepedulian yang menggugah) menunjukkan simpati mendalam paling tidak dengan mempersembahkan posting untuk mengabadikan semangat Puri namun setelah menyadari fakta bahwa ini hanyalah tokoh fiktif yang dibuat untuk memenangkan sebuah lomba, mendadak saya sangat muak pada perilaku pembuat tokoh ini.
Saya tidak menyesali “kebodohan” ikut tertipu dan masuk dalam pusaran “permainan” sang pelaku, sama seperti kawan2 yg lain, paling tidak ini menunjukkan satu hal bahwa kepedulian kawan-kawan kompasianers dalam kasus ini sangat tinggi. Dan ini mengharukan.
Kalaupun memang posting saya ttg Puri tetap ada di Kompasiana, saya akan tetap persembahkan buat semua pembaca Kompasiana sebagai upaya mengabadikan semangat untuk tetap melanjutkan hidup dengan optimis.
Terimakasih atas informasi ini Mas BH
+1
-1
Lebih baik tau sekarang kan daripada keburu buku puri dan yayasan puri berdiri? Makasih kembali ya. Ayo jangan larut dalam kekecewaan. Tetep SEMANGAT!!!!!!
+1
-1

Saya sedikit kecewa ternyata Puri adalah kisah fiktif yang dilahirkan hanya demi nafsu merebut kemenangan … tapi ada yang tetap menyala di diri saya yaitu ‘kesadaran’ untuk waspada terhadap penyakit ini telah dibangkitkan oleh ceritapuri. Saya coba ambil positifnya meskipun kasus penipuan seperti ini jangan terulang lagi di keluarga Kompasiana …
+1
-1
Kamu berhak kecewa lebih banyak lagi. Gapapa kok dan itu wajar sekali. Kita semua merasakan itu. Tapi jangan terlalu larut sama kekecewaan itu ya? Ayo tetep SEMANGAT!
+1
-1

.. dan terima kasih pula untuk si penipu ini, yang barangkali sekarang sedang membaca layar yang penuh tanggapan ini. Anda bisa tertawa…, tapi juga juga mungkin ‘kecut’ kalau suatu ketika mengingat bahwa tak ada kejadian yang tak dibalas oleh NYA walau sebesar biji zarah sekalipun….
+1
-1
Hus Linda. Jangan biarkan kebijaksaaan kamu terusik cuma gara2 cerita fiktif ini. Yuk terus berkarya. Segala hal pasti ada hikmahnya.
+1
-1

*Mereka yang tidak benar-benar memahami brief, logika, dan peradaban di social media menciptakan hoax, melakukan negative campaign, membuat kekacauan*… mungkin anak ini begitu excited dgn idenya menjadi seseorang yang sekarat sehingga dia lupa diri. tapi dari yang saya baca postingan2 tentang puri, saya kagum dengan empati para blogger kompasiana. salute! semoga semangat untuk pita pink itu tetap ada..
+1
-1
Betul! Blogger2 di Kompasiana memang hebat semangat peduli sesamanya.
+1
-1

Saya terperangah iya. Soalnya saya prihatin jika merunut ceritanya di Kompasiana… Walau demikian, terlepas dia ada atau tidak, bagi saya tidak penting…
Cuma saja ini perlu menjadi pelajaran bagi kita semua betapa mudahnya kita dibohongi…
Saya sih sempat bertanya, tanya, dikubur di mana? Ada gak Kompasianer yang hadir? Siapakah Kompasianer yang mesti bertanggungjawab atas informasi sesat ini?
+1
-1
Saya kali ya yang memulai ^_^ karena karena saya Pak Pray jadi membaca dan tersentuh. Maaf, kan saya gak tau kalau itu fiktif.
+1
-1
Bukan ceu, ini tanggung jawab kita bersama koq karena siapapun disini adalah “korban”, baik yang menulis maupun yang membaca tulisan tentang “Puri”
Namun sebagai korban yang tidak mau menjadi korban selamanya, kita ambil positifnya aja…. Saya meyakini apa yang terjadi di dunia ini semuanya bukan kebetulan jadi pasti ada hikmah untuk semua yang hidupnya pernah bersinggungan dengan “Puri’ ini.
Mungkin suatu saat kita akan berterimakasih juga ke “Puri” karena pernah dikerjain…. mungkin aja kan ![]()
+1
-1
Ah Lintang hati dan benakmu secantik wajahmu ternyata, sayang saya tergolong normal ya kalau tidak mmmmmm boleh lah ^_~
Thanks for your understanding semangat lagi ach ^_^
+1
-1
Normal? Jangan nantangin saya ya, ceu
Gitu dong, ayo semangat!!!!
+1
-1
itu juga yang jadi pertanyaan saya. Seharusnya kompasianer yang di yogya yang paling punya peluang menyelidiki kebenaran keberadaan Puri.
+1
-1

ombud..ternyata banyak ya yang bikin cerita palsu serupa puri ini buat daun muda awards…
+1
-1
Iya ada beberapa cerita. Puri ada di Kompasiana. Kalo Rona yang diperkosa itu ada di mana-mana. Gue ngeliatnya di Multiply. Dan ada beberapa lagi peserta yang memakai pendekatan negative campaign.
+1
-1

Fiktif atau beneran, semoga kita bisa mengambil hikmah, paling tidak saya jadi tahu sedikit lebih jauh tentang penyakit kanker payudara
Untuk yg telah mengarang tokoh Puri..terima kasih telah mau repot2 untuk menjungkir balikkan hati kami para kompasianer, seperti kang Pepih, Dr Anugrah, Mba Linda, Mba Erwahyuni, Mba Limantina dan Amritg yang nangis termewek-mewek sampe termehek-mehek hehehe…
kecuali Mba Rosiy,,dia menangis hanya karena merindukan rendang jengkol hehe…(piss Mba Ros ![]()
Untuk mencapai menang sebaiknya tidak dengan menghalalkan segala cara…
Makasih buat Pak Budiman, dah ga bikin kita nangisin Puri lagi, Puri nya dah tenang di alam Maya Internet.
Semoga ga ada Puri2 Fiktif yg lain…kecuali dalam bentuk Cerpen atau Cerbung ![]()
+1
-1
Eh rendang jengkol lagi bener-bener bikin air liur mengalir deras seperti air terjun
+1
-1
Kamu bijak sekali nathalia. Cara kamu menyikapai masalah Puri ini bikin saya kagum. Ga ada satu pun kalimat yang menyumpah atau menyalahkan orang lain. Thanks ya.
+1
-1

Usul saya, untuk Kompasianer yang ada di Jogja, silahkan mencari tahu lebih detil, kalau tidak keberatan. Kalau saya masih di Jogja sih, saya bersedia melakukannya. Bukan dalam arti saya tidak setuju dengan penjelasan Bung Budiman; hanya untuk menghindari kita jatuh pada kesalahan yang tidak perlu.
Zaman sekarang walau satu kampus, bisa saja orang tidak saling kenal; bisa saja pegawai yang sedang bertugas sedang tidak mood dan menjawab sekenanya. Bisa ada kemungkinan-kemungkinan lain.
Salam!
+1
-1
Jangan kuatir Limantina. Justru semakin terang benderang saya juga semakin seneng kok. Saya juga kan ga mau dibilang menyebar fitnah….
+1
-1

hehehe…ini fiksi paling menarik. Hampir saja, saya terkecoh (dan memang terkecoh). Ceitapuri pernah saya tawakan ke Boss penerbitan sebuah Majalah untuk dijadikan catatan Bulet In. Sempat saya telusri situs2 Puri dsb dsb. Tapi kehilangan apa yang disebut ’substani personal” Ada link yg hilang yang tdk bisa saya masui. Makanya diputuskan ‘untuk sementara dipending’.
Makasih infonya ini.
Pada akhirnya kita memang harus mentertawai (mensyukuri) kecerdasan emosional kita……..
+1
-1
Kenapa ga dimuat aja dan cerita apa adanya. Bahwa kita semua terkecoh. Bukannya malah jauh lebih menarik jadinya?
+1
-1

ya ampun…. siapa bilang ga ada korban? Banyak juga yang jadi korban, korban perasaan…. liat aja komentar2 dari kompasioner, banyak yang merasa marah & sedih karena dibohongi…. kebetulan saya tidak mengikuti cerita tentang puri…. baca artikelnya saja tidak pernah, entah kenapa saya kurang tertarik…. cuma pernah membaca artikel yang ditulis mbak lintang, saya berpikir apa iya mereka2 yang bersimpati sama puri ini pernah ketemu dengan puri, pernah datang ke rumahnya, dsb…. semoga kita semua bisa mendapat pelajaran yang berharga dari kejadian ini….
Terima kasih pak Budiman atas artikelnya….
+1
-1

sudah di duga … hmm lanjutkan .. jadi inget tokoh blogger yg meninggal … dan ternyata … mati kok maenmaen …
+1
-1

Terima kasih artikelnya…
Saya sdh lama absen jd nggak mengikuti tokoh Puri. Nah pas gabung lagi ramailah si tokoh ini. Tadinya saya pikir tokoh asli dan pasien dokter kompasioner ahli kanker kita. Dari dokter inilah Puri tahu kompasiana dan berkisah ttg hidupnya. Maaf ya dr. Anugrah….
Setelah membaca artikel ini ya biasa-biasa saja karena saya yakin di luar sana masih banyak Puri - Puri lain dengan kisah serupa.
Ingatan saya kembali pada 1986-an ttg kisah seorang gadis. Penyakit kanker ganas merenggut jiwa seorang gadis yang cantik, cerdas dan sangat taat beribadah. Barangkali dia setegar Puri meski saya belum pernah baca tulisan-tulisan Puri.
Pesan moral: pelajaran bisa juga dipetik dari kisah nyata maupun fiktif.
Peace…. and keep work!
+1
-1
Betul. Hidup adalah pembelajaran dan kita belajar hal2 kecil setiap hari.
+1
-1

Wahhhh gile bener bohongnya udah ky sinetron panjang banget, Udah peke bawa2 nama Tuhan di postingan yang: http://kesehatan.kompasiana.com/2009/10/27/jawaban-tuhan/
Bawa2 nama yayasan kangker, universitas, yang paling di sayangkan membawa2 nama dokter yang di kesankan salah diagnosa,
pada saat baca postingan yang ini “Upss… Salah Sangka!!” : http://kesehatan.kompasiana.com/2009/10/25/upsssalah-sangka/
Di postingan tersebut saya sempat menyalahkan dokter, maaf para dokter saya sudah berprasangka buruk kepada anda.
Sebenarnya ada ke ganjilan dalam cerita itu dalam postingan “upss salah sangka” di sebutkan dia baru didiagnosa terkena kangker beberapa bulan yang lalu, tetapi dia sudah tidak aktif kuliah bertahun2 karena sakit.
+1
-1
Wah jadi udah curiga juga dari awal ya?
+1
-1

Saya ambil sisi positifnya saja, dengan adanya kisah fiktif ceritapuri, saya sudah menulis 10 artikel terkait tentang kanker, dari sejak 31 oktober hingga kemarin, pencegahan dan pengobatan kanker, walaupun saya bukan dokter, saya guru biologi, yang tahu juga masalah kanker.
Ceritapuri merupakan salah satu sumber inspirasi buat saya dan yang lain2. Jujur, akui saja itu. Banyak penulis yang numpang beken juga dari tokoh fiktif ceritapuri, dengan membuat tulisan atau kenangan kepada puri fiktif itu.
Salut buat pencipta/penulis tokoh ceritapuri, lebih salut lagi kalau dia berani nongol di kompasiana sekarang, hayo berani enggak ???
+1
-1
si prof waras lagi waras so kali ini I love you deh prof ^_~
+1
-1
Hmm…banyak orang bijak di Kompasiana. jarang saya temuin di jaringan komunitas lainnya.
+1
-1

Be positive thinking dengan keadaan ini,,, Mari kita ambil hikmahnya,,,
+1
-1

Speechless deh… tapi..( seperti yang banyak orang bilang ) saya ambil hikmah nya aja… thanks pak BH…
+1
-1

buat saya asal janga Jim Morison bangkit…. kalo di dunia sieh masih banyakkemungkinan…asal jim morison janganbangkit ya..kalau samapi jim morison bangkit buru2 kasih tau saya
+1
-1
Jim Morison? Hahahahaha…kalo dia bangkit gue ga takut soalnya ngefans banget sama dia.
+1
-1
kalo bangkit jangan di lihat sendiri..buru-buru aja saya lihat……. jag di jadiin tokoh fiktif…. semoga jim Morrison tidak marah disana ![]()
+1
-1

sejak awal saya tdk begitu terharu dgn cerita puri……..dan agak kaget juga begitu cepat puri pergi…..tapi sang pembuat memang berhasil menipu perasaan banyak orang…….tapi memang beginilah kehidupan…….flow like the rain in the river……ada yg hitam dan ada yg putih……tapi apakah ada yg abu-abu….???. saya pikir tdk ada yg abu-abu……adanya abal-abal……..
Paling tdk puri menyadarkan diri kita sendiri bahwa kita memang masih waras dan tdk gila, krn masih memiliki empati yg besar terhadap manusai lain, walaupun hanya dikenal di dunia maya.
Begitulah dunia maya…..dunia the matrix……semua bisa diciptakan……saya tdk terlalu percaya dgn dunia maya……semua orang bisa mengumbar cerita bohong…..tapi semua ini tentu ada hikmahnya……inilah warna kehidupan, kalalu hanya berwarna putih saja, tentutalh tidak indah bukan…???……Best regards for all chayoo semangat yaa…….
+1
-1
Yak kita ambil hikmahnya aja. Hadirnya Puri, suka ga suka, membuat Kompasiana seru juga kan?
+1
-1

wah .. wah, .. aya-aya wae,
Padahal potongan kecil dari tulisan saya (ttg cancer), sdh masuk di kolom komentarnya kang Unang, sedangkan yg full blm di publish (msh draft).
Namun, bagaimana pun juga, bravo buat BH, yg telah menyingkap hal ini.
Salam,
Umar
+1
-1
Terusin aja Pak Umar tulisannya. Lengkapi dengan realita bahwa tokoh ini fiktif. Kan jadi malah lebih kaya tulisannya? Bener ga?
+1
-1

Ya. Enggak Boong saya, bener, ne.
Saya termasuk yang curiga, kok ada yang meninggal, enggak ada yang cari tahu dimana mayatnya
tidak ada yang layat. Malah rame…………maaf, termasuk aya juga, hehe
Kata Prof. Nurtjahjadi, biarin je, yang penting sudah ada tulisan min 10 gara gara Puri, Enggak rugi khan…….hoyyoo.
Salam
rudi esape
+1
-1
Betul. Saya juga sepakat aja sama nurtjahjadi. Suka ga suka, tokoh Puri udah memberi warna bagi komunitas Kompasiana.
+1
-1

Pak Budiman Hakim: wah, heboh bener ke mana-mana, dari yang mulanya saya tidak tahu, jadi tahu sekarang…terima kasih Pak Budiman Hakim…
+1
-1

Mas budiman, terima kasih sudah menginfokan kepada kami tentang tokoh “PURI”, sebenarnya tinggal dari sudut mana kita memandang tokoh PURI tersebut mas…kalo saya pribadi sih rasa kecewa pasti ada…tapi ada hal positif lain yang bisa didapat dari tokoh PURI tersebut dan cukup bermanfaat bagi banyak orang mas….jadi kita maafkan saja orang yang menciptakan tokoh tersebut….dan menjadi pelajaran buat kita semua supaya kedepan tidak ada kasus seperti ini lagi…
salam,
+1
-1
Setuju! Saya sejak awal udah memaafkan mereka. Karena saya yakin mereka ga bermaksud menipu. Ketidaktahun dan kepolosan merekalah yang membuat hal ini terjadi. Internet adalah media baru, masih banyak orang yang belom mengerti soal etika dan tata krama di media interaktif ini.
+1
-1

Terima kasih Pak BH infonya, jadi semakin paham, betapa amal seseorang itu tergantung niatnya.
Banyak sekali hikmah yang didapat, sungguh pelajaran yang berharga.
Buat teman-teman kompasianer yang telah tulus berbuat baik, tetap semangat ^_^
+1
-1

Hus! Jangan buru2 percaya sama saya. Siapa tau saya juga tokoh fiktif hehehehe
+1
-1

Bang BH bukan Tim TPF yang diangkat oleh Admin Kompasiana kan?
Trims untuk ungkapan faktanya
+1
-1
Sebagai member di Kompasiana saya merasa bahwa semua kompasianer berhak tau kebenaran yang ada. Itu aja kok.
+1
-1

Pak Budiman yang budiman…
Dari cerita tokoh Puri tersebut paling tidak kita bisa ambil positif nya dan kita bisa dapatkan juga pelajaran bagaimana mensikapi hal-hal ‘fiktif’ yang sering terjadi di sekitar kita untuk mengundang empati dan simpati orang.
Buat saya KEBENARAN adalah yang utama. Tapi adalah hak setiap orang untuk melakukan apa yang dirasa cocok dan bisa dipakai untuk mencapai tujuannya. Kalo memang baik pasti hasilnya juga baik, sebaliknya kalo cara2 jelek yang pasti dia akan menanggung akibatnya.
Banyak sekali kemasan menarik yang kita jumpai di kehidupan ini. Dan seringkali kita pun terkecoh, Bahkan dengan alasan menjaga etika atau menjaga image, orang gampang saja ‘berbohong’. Kadang ‘bohong’ sendiri tidak mau disebut bohong tapi minta disebut sebagai suatu alasan demi kebaikan.
Pak Budiman yang budiman…
Saya rasa untuk di Kompasiana jangan ada lagi tokoh fiktif.
Bagaimana pendapat pak BH ?
+1
-1
Wah susah tuh. Sampe kapan pun akan selalu ada tokoh fiktif. Ada yang sekedar pake nama palsu karena ga mau dikenal identitasnya. Ada juga yang berlindung di balik nama palsu karena mau ngacak-ngacak sebuah komunitas. Makanya saya kan menulis artikel berjudul Pengecut2 di dunia maya. Udah baca belom?
+1
-1

Jadi ingat dulu juga ada tokoh fiktif di Kompasiana versi lama, yang sempat membuat beberapa kompasianer marah-marah dan emosi sampai ke ubun2 menaggapi tulisannya hehehe
http://umum.kompasiana.com/2009/06/13/mevrouw-ra-ariani-endang-prio-van-de-cock/
Kali ini, tokoh fiktifnya berhasil membuat beberapa kompasianer menangis sedih menangisi “kematiannya” ![]()
Salam Kompasiana
+1
-1
Ha ha ha…… Saya penasaran banget sampai sekarang, siapa dia itu ya meskipun tulisannya “nyolot” tapi positifnya bikin kita kompak punya musuh bersama
Salam kenal mas Farid.
+1
-1
@Farid: Jangan diketawain ya? Saya orang yang termasuk nangis loh waktu denger Puri meninggal hahahahahahaha…Kampret!
+1
-1
BH : Maaf uda Budiman, saya dari tadi nimbung di komentar teman teman….. abis “flat” uda ini ramai banget kayak di suatu pesta jadi pingin say “hi” ke yang lain…..
Sekali lagi maaf ya da….peace!!!
+1
-1
@ Jeng Kelin eh salah mba’ Lintang a.k.a Mommy-nya Wortel,
Salam kenal kembali
@ Mas Budiman Hakim
Saya gak ketawa kok hahahahaha……:))
Salam Kompasiana
+1
-1
@Lintang: Ga bisa dong kalo cuma maap doang. Ayo traktir saya soto betawi di warungnya Pak Umar.
+1
-1
Katakan tidak dan hahahahahahaha….LOL :))
+1
-1

yang perlu kita cermati bersama adalah sikap dan tindakan kita bila suatu saat ada lagi cerita/peristiwa seperti Puri ini. Apakah kita akan bertanya : “beneran nggak nih?” atau tetap dengan empathy dan simpati kita tanpa bertanya-tanya ?
ketika tidak ada uang di sana, kita bisa terlihat “bijak”, bagaimana kalau sudah terlanjur ada uang ? ada sumbangan ? ada pemberian ? ini yang agak “repot”…
tapi ya, terima kasih buat Pak Budiman yang sudah mempost tulisan ini.
salam,
topan
+1
-1
Waktu kecil ibu saya pernah cerita kisah si Bo’ong. Suatu hari Si Bo’ong tereak2 minta tolong karena mau dimakan sama macan. Pas orang2 kampung dateng ternyata macannya ga ada. Rupanya dia cuma mau mempermainkan orang kampung aja.
Nah suatu hari lain lagi, Si Bo’ong beneran ketemu macan. Dia tereak2 minta tolong tapi kali ini orang kampung ga ada yang keluar menolong karena menyangka Si Bo’ong lag bohong lagi hehehehehehehe
+1
-1

weleh-weleh…cerita ini ngingetin saya. dulu punya kenalan di frenster, baik banget, orang nya di negeri seberang eh tiba2 meninggal. trus yg nulis email ke saya adalah kakaknya(setelah dia wafat). aduh, sedih dan menangis deh saya sampai bikin cerita ttg orang ini. eh setahun kemudian, saya di email lagi sama kakaknya itu, tapi koq agak2 aneh dan mencurigakan.
well, ini membuktikan kalo kompasiana udh cukup diperhitungkan (ya so pasti hla…), ke depannya kita perlu lebih hati-hati.
+1
-1
Betul. Intinya jangan mudah percaya sama orang yang kita belom pernah ketemu.
+1
-1

wahh sebuah fiktif??? salut juga buat puri yang telah sukses membuat simpatik public ya mudah mudahan hal ini tidak lagi terjadi,hanya karna lomba puri tega menipu semua orang.
Jadiin pelajaran aja deh ye…!!!!!!!!
+1
-1
Betul. Pelajaran yang berharga buat kita semua.
+1
-1

keprok keprok keprok…………saya tepuk tangan buat om BH yang udah mau mengungkap kebenaran kalo tokoh PURI itu fiktif……Hebat bgt otak dibalik tokoh PURI ini, bisa menguasai emosi penghuni jagad kompasiana.
Sejujurnya saya tersentuh dengan tulisan Puri, karena saya pernah kehilangan 3 orang terdekat saya karena penyakit yang kurang lebih sama. Cukup nendang bathin juga pas ngebacanya, apalagi testimoni untuk Puri muncul banyak bgt selepas ada kabar kalo Puri meninggal.
Domisili saya sama seperti om Dr. Anugra Martyanto, dan saya kursus di Jurusan ilmu komunikasi unsoed. saya sempat berniat untuk mengetahui keberadaan Puri, karena UGM dan UNSOED berada pada regional Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) yang sama, untuk mengecek keberadaan Puri tentu akan sangat mudah. Ternyata sebelum saya mencoba mencari, ternyata om BH udah duluan membongkar kalo Puri itu FIKTIF.
oke cukup bengong2nya deh, yang penting ada sisi positif dari cerita puri, betapa bahayanya penyakit ini.
Dan untuk otak dibelakang PURI, duh……… kalo kita semua kenal anda di dunia nyata, kayanya anda bakal kena embargo pergaulan deh…..
regards
pangeranpisang
+1
-1
Saya harus membongkar hal ini karena kalo ga akibatnya pasti akan lebih parah lagi. Makasih ya semoga ke depannya Blog berjamaah ini akan semakin membaik.
+1
-1

Oalaaah, ck ck ck ck. Ngga nyangka, ternyata yang saya tangisi beberapa waktu lalu cuma tokoh fiktif.
Parah banget sih, mencari simpati orang dg pura-pura mati? duh duh duh, ngga habis pikir saya.
Diambil hikmah positifnya saja, paling tidak, banyak orang yang jadi tergugah untuk peduli pada penderita kanker, juga menjaga diri dan kesehatannya dengan lebih baik. [Termasuk saya, yang udah mulai bandel lagi makan sembarangan, hehehe].
Hikmah terbaik buat saya, saya jadi bisa berkenalan dg orang-orang hebat, penulis-penulis hebat negeri ini di Kompasiana. Karena jujur, awalnya saya gabung di Kompasiana karena Puri.hehehe.
Mudah-mudahan ini benar-benar jadi pelajaran buat kita, ya.
Semangat! ^_^
Oh iya, akun saya nggak fiktif loh. sumpah! hehehehehe.
+1
-1
Makasih ya Mawar Firdaus. Nama kamu bagus banget.
+1
-1

membuat akun fiktif untuk memenangkan sebuah lomba bisa dinilai sangat melanggar etika tetapi apakah panitia lomba yang membuat peraturan seperti ini:
Brief Daun Muda Award:
Nama lengkap: nama boongan
Jenis kelamin: kelamin boongan
Tanggal lahir: tanggal boongan
Dengan sedikit informasi itu, hidupkanlah dia. DENGAN SEIZIN KAMI, JADILAH TUHAN BAGINYA.
Ciptakan raga untuknya. Tiupkan jiwa ke dalam tubuhnya. Tanamkan kepribadian yang unik pada dirinya. Suntikkan kecerdasan dan kreativitas baginya. Tambahkan emosi sebagai pengimbang. Berilah dia impian, hasrat, minat, kesukaan, dan hal-hal lain yang dibutuhkan.
sumber: http://fahroniarifin.com/rona-dan-daun-muda.htm#comments
saya sedang membayangkan apakah panitia (pernah) berpikir atau tidak kalau peraturan lombanya akan menimbulkan polemik yang begitu mempengaruhi banyak orang. Tentunya dengan mempertimbangkan bahwa panitia adalah pekerja iklan profesional yang tahu pasti bahwa brief yang ia buat memiliki peluang yang begitu besar untuk mengarah kepada black campaign.
sebuah kalimat kunci : DENGAN SEIZIN KAMI, JADILAH TUHAN BAGINYA
bukankah panitia menjadi bagian legal yang menghalalkan peserta menjadi pembohong publik?
rasanya tidak fair bila kesalahan 100% hanya ditimpakan pada peserta yang dianggap membohongi publik PADAHAL dengan brief seperti itu jelas bahwa peserta HARUS membuat sebuah akun palsu yang menang atau tidak menang tetap merupakan suatu KEBOHONGAN!
sama sekali tidak bermaksud kontra pada tulisan om Budiman hanya mungkin dengan polemik ini hendaknya panitia lebih hati-hati dalam menciptakan peraturan lomba Daun Muda Award di tahun-tahun yang akan datang.
+1
-1
Jangan kuatir. Saya juga ga merasa diserang sama kamu kok. Tapi polemik ini buat saya jadi semakin menarik dan perlu didiskusikan. Karena batas etika itu ga pernah jelas di dunia maya. Satu2nya batas etika yang bisa kita percaya adalah hati nurani kita.
+1
-1
Jadi bener nih gak ada peraturan yang melarang peserta lomba melanggar ethic pada saat lomba diadakan dan pendaftaran dibuka? Piyeeee toooh ^_~
+1
-1
peraturan lomba yang saya post di atas kebetulan di post langsung oleh seorang peserta lomba. saya tidak tahu apakah mereka (peserta lomba ini merupakan pasangan) akhirnya memenangkan atau tidak lomba tersebut.
Menurut saya jelas dari peraturannya tidak ada batasan-batasan untuk menghindari pelanggaran kode etik.
Saya setuju sekali dengan yang dikatakan Om Budiman bahwa satu-satunya batasan kode etik yang benar adalah hati nurani.
tetapi tentunya agar fair melihat dari dua sisa ada pihak yang lebih punya bargaining power untuk mengontrol agar pelanggaran etika tidak terjadi. Dalam kasus tokoh puri ini panitia lomba jelas lebih memiliki power dari pesertanya.
posisi panitia dalam hal ini sama saja dengan dunia periklanan yang walaupun pastinya praktisinya punya hati nurani yang baik dan benar tapi tetap membutuhkan kode etik periklanan sehingga jangan sampai keblinger dalam membuat iklan.
sama sekali saya tidak membenarkan tindakan dari pembuat akun puri ini. tapi kesan bahwa mereka (para peserta yang membuat tokoh sejenis juga) adalah oknum paling bersalah dalam sindikat “kebohongan publik” ini saya rasa kurang bijaksana.
+1
-1

mantap mas, seandainya saja ada tokoh semacam mas budiman untuk membongkar kebenaran dan kepalsuan perseteruan buaya vs cicak, apapun itu kebenaran selalu membuktikan dirinya sendiri…
salam
+1
-1

Ada cukup banyak entry2 daun muda yang sebenernya menyenangkan. Misalnya Tokoh di Youtube ini. Dia juga tokoh misterius. Namanya adalah Martin Topeng. Silakan dibuka kalo mau liat :
http://www.youtube.com/watch?v=JbOxW-HW3DI
+1
-1

mas Bud, kalau saya penulis skenario film, saya akan buat kisah Puri ini menjadi sebuah skenario film yang hebat. saya akan aduk-aduk emosi penonton begitu rupa. dan diujung film akan saya kasih kejutan dengan testimoni mas Budiman. hehehe…seru!
tapi apapun itu, kasus Puri ini adalah pelanggaran etika yang dahsyat. pembuatnya sengaja dan sadar membohongi publik dengan cerita sedih nan mengharu biru. saya hanya berpikir, apa sih cita-cita orang ini? apa cuma pengen menang daun muda award? sempit banget kalau cuma itu..
+1
-1
Kira2 pada frustrasi ga seandainya, sekali lagi seandainya loh ya, seandainya ternyata Bibit- Chandra memang menerima suap? Artinya apa? Artinya kita jangan buru2 percaya kalo kita memang belom tau.
+1
-1

Saya hanya bisa menarik nafas panjang dalam hal ini.
Sayapun telah menggerakkan teman dan saudara saya dikampung untuk melakukan gerakan pita pink.Malah masalah ini mendapat dukungan dari kepala desa setempat.Alasan saya waktu ditanya teman-teman jawaban saya: untuk ,melanjutkan perjuangan dari salah satu blokkler yg tlah tiada karena kanker. Yg ternyata semua itu fiktif.
Tapi nggak apa-apa kok,mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua jika ada salah.
Makasih mas BH,salam kenal.
+1
-1
saya rasa Mas bandung bandowoso tetap harus melanjutkan niat pita pink yang kebetulan di dukung oleh kepala desa setempat.
alangkah tidak bijaksananya bila kita urungkan niat baik hanya karena permasalahan tokoh fiktif ini. Lagipula masih banyak puri-puri lain di Indonesia yang benar-benar menderita penyakit ini yang membutuhkan dukungan dan sosialisasi semacam yang dipikirkan mas Bandung Bondowoso.
+1
-1
@Bandung: Ga ada alasan yang jelek untuk berbuat sebuah kebaikan. Saya mendukung Anda sepenuhnya. Jangan sampe berhenti ya kegiatannya.
+1
-1

jangan lagi ada dusta di antara kita… jangan lagi ada kematian palsu di antara kita… jangan lagi ada puri di antara kita….
thanks atas investigasinya mas bud…
+1
-1
Makasih sama2. Kalo ga diungkap sekarang pasti akan lebih parah lagi akibatnya.
+1
-1

@zei nitza,
Saya dan teman-teman saya yg dikampung tetap melanjutkan gerakan pita pink kok.
Mari…,kita berbuat sesuatu untuk Indonesia lebih maju.
Makasih,salam.
+1
-1
Hebat euy. Salut buat Bung Bandung. 2 Thumbs up!
+1
-1

+1
-1
Iya saya udah baca. Makasih ya Ichwan.
+1
-1

Pak BH, mungkin saya yg gak teliti baca artikel ini.. tp saya rada bingung tentang gimana sih pada akhirnya Pak BH tahu faktanya bahwa puri itu tokoh fiktif? drmn Pak BH bs tau soal lomba daun muda itu? dan apakah emang ada tokoh fiktif puri disebut disitu?
terima kasih~
+1
-1
Saya kan orang periklanan. Temen2 saya di kantor juga pada ikut lomba itu. Salah satu panitianyatemen saya. Ya saya tanya aja sama dia. Gampang kan? Jadi nama tokoh fiktif itu bukan ciptaan dari peserta tapi dari panitianya. Tiap peserta dapat satu nama. Setiap peserta ditugaskan untuk menghidupkan tokoh fiktif dan dicintai oleh semua orang.
+1
-1
ohh.. begitu toh rupanya…
makasih, Pak~
+1
-1

Salut untuk Anda, Bung. Taruh kata itu bagian dari sebuah kontes, saya setuju bahwa di depannya harus ada info atau semacam disklaimer atau apalah. Tanpa info, itu sama saja feature fiktif dalam jurnalistik — apalagi sampai mendapatkan penghargaan. Lho bukannya feature(s) di koran tak memberikan disklaimer? Sifat medianya sudah menyampaikan pesan bahwa semuanya faktual.
Kenapa novel atau cerpen yang memilin hari dibiarkan? Sejak awal pembaca tahu bahwa itu fiktif — padahal bisa saja fakta yang dikemas cantik. ![]()
Dalam kasus dan substansi yang berbeda, hal ginian mengingatkan saya permainan SEO hitam untuk mengecoh dan sekaligus cari uang dengan menggunakan mesin blog. Intinya adalah tujuan, bahwa pembaca hanya terkecoh keywords, itu salah sendiri — demikian keyakinan sebagian manipulator SEO. Tapi kasus-kasus macam itu justru mendewasakan kita semua, kan?
+1
-1
Kasus ini memang rada pelik. Karena media internet adalah media baru. Banyak yang ga ngerti tata krama dan etikanya sehingga akhirnye melewati garis yang seharusnya. Tapi saya yakin peserta itu ga bermaksud buruk. Mereka cuma polos, lugu dan grasa grusu.
+1
-1

Mas Budiman, kalo kata guru tatanegara saya waktu SMA : Nyatakan kebenaran walopun itu pahit hehehe…
Terlepas dari itu semua, ternyata bangsa ini mudah terhipnotis eforia simpati tanpa cek ricek kebenarannya. Di satu sisi, hal ini merupakan sesuatu yg positif (karena paling nggak toh kita masih punya nurani, dan kepedulian sosial yg tinggi), tapi di sisi lain kita jd mudah ‘ditipu’.
Beberapa waktu yang lalu, ayah saya bertanya, “Apa jadinya bila ternyata Bibit dan Chandra benar-benar menerima suap? Siapkah masyarakat menerima kenyataan pahit bahwa selama ini orang yang mereka ‘bela’ dan elu-elukan ternyata adalah penipu?”
Anyway, saya juga salut dengan kekritisan bung Mahendra : ditengah gelombang dahsyat eforia Puri, beliau masih sempat-sempatnya mengadakan investigasi.
Last but not least, saya mengucapkan terimakasih pd pembuat tokoh fiktif tsb yang menamai tokohnya dengan nama Puriwati Purasari. Kata Purasari mengingatkan pada sebuah nama hotel di Yogya (Melia Purasani). Sudah lama saya ingin menggunakan nama tsb kalau nanti punya anak hehehehhehe ….
+1
-1
Wah? Pikiran kamu bisa sama ama saya soal Bibit dan Chandra. Btw saya beberapa kali loh nginep di hotel itu. Malah saya suka nyanyi di cafe yang di pojok itu hehehehehe
+1
-1

kita ambil hikmahnya aja…toh kejadian2x seperti ini sudah banyak terjadi bukan hanya dikompasiana saja. Yang jelas banyak hasil positif yang bisa diambil,contohnya Kang Wawansupandi yang sudah mengajarkan kepada anak didiknya ttg tindakan SADARI.
+1
-1
Betul. Suka ga suka skandal Puri ini telah menjadikan Kompasiana lebih berwarna.
+1
-1

sama seperti bak rosy, saia tidak terlalu mempermasalahkan tokoh fiktif ini. Untuk masalah buku & yayasan saya rasa bukan hal yang mustahil melihat bahwa sosok Puri walaupun fiktif tetap telah memberikan kita penglihatan baru tentang arti kehidupan dan semangat^^
+1
-1
Ternyata Rosiy sibuk mempermasalahkan tokoh fiktif ini hehehehe
+1
-1

menurut saya ini tehnik kamuflase terbaik nyaris sempurna. semua bersimpati. bahkan tak jarang ada ‘termehek-mehek’ hanyut dalam duka mendalam. pada posisi ini seorang menjadi sangat kreatif, menulis perasaannya dengan mudah. Kreatifitas terbangun bersimpati atas penderitaan. tapi sy tetap tak bisa menerima ‘permainan tdk etis’ ini walau efeknya positif. buat semua teman kompasianer salut atas dukungan pd tokoh puri, walau ternyata fiktif belaka. saya percaya simpati anda akan disampaikan pada puri yg lain di tempat yg lain, yg mengalami masalah serupa.
+1
-1
Setuju! Kalo kita ngeliat dari sisi positifnya maka kita ga akan berhenti berkarya. Dan tentunya kita juga ga akan larut terlalu lama dalam kekecewaan. Makasih ya Din.
+1
-1

Habis sudah berember-ember airmata tertumpah… meski awalnya terasa menyakitkan kala mengetahui informasi dari Bung BH ini… saya coba tenangkan diri… dan mencoba melihat dari sisi positifnya saja…
Terima kasih yang tulus dari saya untuk rekan yang telah berhasil mengguncang bathin dan menguras airmata saya… setidaknya saya mendapat hikmah dari pesan moral dan semangat hidup yang ditularkan lewat tulisan Cerita Puri… Salam tulus dari saya, semoga kedepannya sama mendapat hikmah dari kejadian ini… menjadi semakin dewasa dan dapat membedakan mana yang etis dan tidak etis…
Bung Budiman… mah kasih ya Bung… saya coba menenangkan diri dulu… Salam hangat…
+1
-1