
If you want to speak, make sure what you speak is better than silence. Follow my twitter @budiman_hakim
Dibaca: 4218
Komentar: 210
12 dari 16 Kompasianer menilai Bermanfaat
Internet adalah media baru. Sebuah media interaktif yang sangat potensial untuk mendekatkan diri kita pada orang lain. Melalui media ini kita mampu mempermainkan emosi orang yang membacanya. Mengapa demikian? Karena sarana interaktifnya membuat kita mempunyai keleluasaan untuk meyakinkan secara terus menerus bahwa tulisan kita memang sebuah realita. Selanjutnya melalui tulisan tadi akan berkembang terjalinnya hubungan emosional antara penulis dan pembacanya.
Berbicara soal hubungan emosional yang terjadi di dunia internet, ga ada contoh yang paling spektakuler selain peristiwa yang terjadi baru-baru ini. Kita semua tentu masih ingat seorang blogger Kompasiana bernama Puriwati Purasari Andono yang mengidap kanker payudara. Tokoh ini pertama bergabung tanggal 16 Oktober 2009. Selama bergabung di Kompasiana dia hanya menulis 5 artikel. Tidak lebih.
Walaupun cuma menulis 5 artikel, tulisannya sangat menyentuh hati. Mengapa? Karena tulisannya begitu optimistis. Dia yang yang sedang menderita kanker payudara justru sangat optimis menghadapi hari depannya. Dia begitu percaya bahwa semangat hiduplah yang akan menyembuhkannya. Bukan obat-obatan dari dokter. Karakter Puri ini begitu kuat dan langsung bisa duduk di bangku VIP di hati semua Kompasianer.
Artikel pertamanya berjudul ‘Ups… Salah sangka!! Di publikasikan tanggal 25 oktober 2009. Artikel kedua “Siapa yang kasih Tuhan pahala atas kebaikanNya sendiri?” Ditulis tanggal 26 Oktober 2009. artikel ketiga “Jawaban Tuhan” tanggal 27 Oktober 2009. Tulisan keempat “Oktober Bulan Pink”28 Oktober 2009. Dan artikel terakhir adalah “Susi. Susu siji” juga tanggal 28 Oktober 2009.
Pada tanggal 31 Oktober 2009, Pepih Nugraha, Admin Kompasiana menulis bahwa dia mendapat pesan dari Kompasianer lainnya yang bernama Dr. Anugra Martyanto, dokter Kompasianer yang tinggal di Purwokerto, Jawa Tengah. Isi pesannya adalah: Puriwati Purasari Andono meninggal karena penyakitnya.
Pepih Nugraha keliatannya lumayan terpukul mendengar berita ini. Dengan segera dia menghimbau pada semua anggota Kompasiana untuk menulis tentang Puri. Tulisan tersebut nantinya akan dikumpulkan dan dijadikan sebuah buku. Tujuannya tentu bukan untuk menolong Puri tapi menularkan semangat Puri pada siapapun yang juga mengidap penyakit maut ini.
Berita ini juga sangat mengejutkan semua member Kompasiana lainnya, terutama bagi yang selalu mengikuti artikel anak ini. Banjir airmata pun tak terbendung. Bukan hanya perempuan, laki-laki yang tampangnya sangar-sangar seperti saya pun ikut mengucurkan airmata. Bukan hanya itu, seorang old soldier seperti Prayitno Ramelan pun sampai mewek tak tertahankan.
Kedukaan yang begitu mendalam membuat beberapa orang merasa perlu bertindak. Mereka berencana membuat Yayasan Puri. Tentu saja intinya adalah melanjutkan perjuangan Puri dengan cara menyemangati dan memberikan pertolongan baik itu moril dan matriel pada teman-teman senasib Puri.
Dari sekian banyak orang yang bersimpati pada Puri, ada seorang blogger yang mencurigai Puri adalah tokoh fiktif. Namanya Mahendra Senoaji. Dia menulis tanggapan di artikelnya Rosiyhttp://kesehatan.kompasiana.com/2009/10/26/sebuah-pesan-untuk-ceritapuri/
“oya..puri…maaf anda benar terkena kanker secara positif?maaf ternyata setelah saya telusuri anda bukan mahasiswa komunikasi UGM angkatan 2005 dan 2006 .. apa ini sebuah akun yang fiktif hanya untuk menarik perhatian dan simpati orang untuk mengetahui insight mendalam terhadap kanker payudara? jika memang iya… semua orang yang membaca cerita anda ini hanya sebuah fiktif saja…bahkan bisa2 anda tipu dengan cerita anda… maaf sekali jika memang forum ini fair bisa ditunjukkan sebuah privasi terhadap seseorang tentang sebuah arti kejujuran…jangn mengggunakan cerita seperti ini hanya untuk sebuah perlombaan saja. Perhitungkan langkahmu jika ingin memulai sebuah pekerjaan yang penuh tanggung jawab…”
Tentu saja tuduhan Mahendra membuat berang kompasianer lainnya. Dari semua reaksi yang muncul, saya cukup kagum sama Rosiy. Blogger perempuan ini yang biasanya paling ekspresif menyatakan perasaannya terhadap Puri justru tidak terpancing dan tetap bersikap bijaksana. Dia mengatakan sangat terkesan pada tulisan Puri.sehingga Rosiy tidak begitu mempermasalahkan apakah Puri itu tokoh fiktif atau bukan. Kanker Payudara adalah penyakit berbahaya, begitu kata Rosiy. Dia tetap semangat mendukung perjuangan Puri. Begitu juga bloger-bloger lainnya.
Nah sekarang pertanyaan saya. Bagaimana sikap kita semua bila ternyata Puri memang adalah tokoh fiktif? Seberapa besar kekecewaan kita terhadap Puri ini? Bisakah kita menerima dengan lapang dada bahwa: OK-lah dia adalah tokoh fiktif tapi yang penting kan semangatnya tetap positif. Yang penting kan efeknya juga positif. Alhamdulillah bahwa dia adalah tokoh fiktif karena kita ga butuh korban beneran untuk bersimpati pada penderita kanker payudara. Ada atau tidak ada Puri kan kita memang harus berempati pada siapapun yang mengidap penyakit tersebut.
Sanggupkah kita menerima kenyataan bahwa Puri adalah tokoh fiktif?
Semoga kita semua memiliki dada yang benar-benar lapang dan kebijaksanaan yang besar. Saya harus mengatakan sejujurnya bahwa Puriwati Purasari Andono adalah tokoh fiktif.
Sekali lagi: Puri adalah tokoh fiktif!
Seperti dugaan Mahendra Senoaji, pencipta tokoh Puri melakukan semua ini demi sebuah lomba. Bukan lomba penulisan tapi lomba kreativitas yang diselenggarakan oleh Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I).
Lomba ini dinamakan Daun Muda Awards dan hanya bisa diikuti oleh praktisi periklanan yang berusia muda. Praktisi yang berusia 28 tahun ke bawah.
Sesuai brief yang dikeluarkan panitia, semua peserta memang diminta untuk mengampanyekan seorang tokoh fiktif yang nantinya bisa dicintai oleh banyak orang. Di sinilah panitia menantang para peserta untuk menggali kreativitasnya. Sayangnya di sini pula peristiwa berawal. Beberapa peserta entah mengapa rasanya kurang memahami brief dari panitia. Mereka mulai mengarang-ngarang cerita dan menghalalkan segala cara untuk merebut simpati para pembaca.
Saya pribadi sangat menyayangkan adanya peserta yang menggunakan negative campaign yang mungkin saja akan melukai sebagian dari orang yang membacanya. Karena itu saya sangat lega ketika mendengar bahwa para juri juga tidak memenangkan Puri dan peserta lain yang kreativitasnya satu spesies dengannya. Berikut saya kutip sebagian kalimat penutup dari Panitia Daun Muda Awards. Baca selengkapnya di: http://tinyurl.com/panitia-DMA
“Mereka yang tidak benar-benar memahami brief, logika, dan peradaban di social media menciptakan hoax, melakukan negative campaign, membuat kekacauan. Mencari jalan pintas demi terkenal dengan melanggar segala etika: ada yang mengaku mau mati, ada yang mengaku kehilangan anak, ada yang mengaku diperkosa. Menyebalkan!
Dan kami menarik garis tegas untuk membuang itu semua. Tak satupun kampanye negatif yang kami masukkan bahkan ke dalam daftar calon finalis (shortlisted). Sebab kami percaya, cara-cara semacam itu tidak akan pernah berhasil dalam jangka panjang. Kami meyakini, tetap ada wisdom dalam sebuah crowd, yang bakal menghukum setiap perbuatan yang menyebalkan. Kami tak sedikit pun ragu, akan ada sanksi sosial bahkan dalam pergaulan sosial yang cuma ditautkan dengan ID, nickname, dan sejenisnya.”
Begitulah sikap panitia yang tegas-tegas tidak mendukung bahkan menentang keras cara peserta yang melakukan negative campaign.
Seperti saya katakan di atas, media internet adalah media baru. Ada banyak dari kita yang belom mengerti aturan main, tata krama dan beretika di dunia maya ini. Ketidaktauan dan sikap spontan anak-anak muda menjelma menjadi sebuah kombinasi yang fatal. Keluguan mereka pada etika dan kurangnya pengalaman dalam menyikapi sebuah social media adalah titik awal dari peristiwa yang menyedihkan ini.
Sampai saat ini pun saya tidak pernah mengenal siapa pemilik akun Puri. Akan tetapi, saya telah mendapat konfirmasi dari sumber yang dapat dipercaya bahwa Puri adalah tokoh fiktif
Saya sebenernya ga ada sangkut pautnya dengan pihak Panitia Lomba ataupun dengan peserta Daun Muda yang menciptakan tokoh Puri ini. Akan tetapi sebagai seorang individu yang juga berkecimpung di dunia periklanan, saya merasa turut bertanggungjawab atas apa yang terjadi. Karena itu saya meminta maaf kepada seluruh Admin dan member Kompasiana.
Akhir kata semoga kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini. Marilah kita berupaya berpikir positif dan bijaksana. Marilah kita menggali kantong kita lebih dalam dan mengeluarkan semua cadangan maaf kita pada mereka. Dan saya berdoa semoga ke depannya peristiwa seperti ini tidak akan terjadi lagi.
Sebuah pembelajaran yang cukup mahal buat kita semua….[SIGH]