

Untuk pertama kalinya Kompasiana membekukan sebuah akun. Akun milik seorang Kompasianer bernama Puriwati Purasari Andono dengan nama halaman Ceritapuri. Pembekuan dilakukan karena adanya indikasi yang bersangkutan berbohong dan menipu publik Kompasiana serta para netter lainnya dengan mengeksploitasi “penderitaannya” sebagai penderita kanker payudara. Uniknya, “penderitaannya” itu ia lakukan dengan cara berbagi (share) di blog pribadinya maupun di Kompasiana, sehingga di satu sisi postingannya bermanfaat untuk memotivasi para penderita kanker payudara lainnya untuk tetap optimis menjalani kehidupan.
Akan tetapi, postingan Budiman Hakim berjudul Tokoh Fiktif di Kompasiana, mengisyaratkan bahwa apa yang dilakukan Puri adalah hoax, penipuan, dan pembohongan publik secara vulgar demi sebuah lomba atau sayembara iklan. Kita tahu, Budiman Hakim adalah praktisi periklanan yang namanya menembus batas dunia iklan itu sendiri, sehingga apa yang dipostingkannya, khususnya mengenai indikasi Puri menipu publik, sangat layak dipercaya.
Seperti yang telah saya singgung, sharing mengenai penyakit yang diderita seseorang dan bagaimana orang itu hidup berdampingan dengan penyakit itu, sungguh suatu cerita yang menggugah. Selain menggugah, pesan dari postingan itu bisa ditangkap sebagai pemompa semangat bagi sesama penderita, juga menjadi early warning bagi mereka yang sehat wal afiat. Cerita menggugah yang bisa ditularkan dari mulut ke mulut, dari tautan ke tautan, dari blog ke blog, dan seterusnya. Tetapi apa yang dilakukan Puri? Tega-teganya dia berpura-pura mati hanya untuk menangguk simpati!
Katakanlah itu bukan Puri yang melakukannya sendiri, tetapi orang lain yang kebetulan ikut lomba dan menggunakan obyek Puri sebagai pemantik rasa iba. Tetap saja itu menipu publik karena Puri tidak berusaha mencegah atau melarangnya!
Ketika saya menerima informasi “kematian” Puri dari dr Anugra Martyanto, saya langsung membuat postingan di atas kuburan almarhumah Ibu (kebetulan waktu itu sedang nyekar). Saya langsung tergugah dan jatuh simpatik tanpa cek dan ricek terlebih dahulu (masak untuk simpatik harus cek dan ricek sih?), saya langsung membuat postingan untuk mengajak Kompasianer membuat tulisan tentang Puri dengan harapan semua tulisan itu dikompilasi menjadi sebuah buku. Saya bahkan berjanji bersedia menjadi editor buku itu. Dr Anugra malah bersedia membiayai sebagian ongkos produksi penerbitan buku itu!
Bayangkan, berapa orang yang telah kena tipu Puri, mulai dari mereka yang bersimpati dalam bentuk postingan, komentar, bahkan ada yang bertekad mendirikan Yayasan Puri.
Apa yang harus saya lakukan selaku admin Kompasiana?
Dengan tidak hormat, Kompasiana membekukan Akun Ceritapuri!
Mengapa hanya membekukan dan tidak mencabut saja halaman Ceritapuri dari Kompasiana?
Tidak. Kompasiana tidak akan mencabut halaman Ceritapuri dan akan tetap membiarkan halaman itu berdiri dan masih bisa dikunjungi. Ini adalah monumen kebohongan publik paling spektakuler, yang dilakukan oleh seorang Puri, yang sudah seharusnya tidak ditiru Kompasianer lainnya. Puri adalah Kompasianer yang tega-teganya menipu dan menguras simpati publik dengan cara “mematikan” (pura-pura) dirinya sendiri.
Dengan cara membohongi publik seperti ini, Kompasianer lainnya menjadi bertanya-tanya, jangan-jangan sebenarnya dia bukan penderita kanker payudara, jangan-jangan dia bukan Puriwati Purasari Andono, jangan-jangan…. masih sederet lagi keraguan lainnya. Simpati dengan cepat berubah menjadi antipati. Karena kebohongan setitik rusak kepercayaan netter sejagat maya!
Kami, Kompasiana, tidak akan mencabut halaman Ceritapuri ini semata-mata pelajaran berharga, bahwa di suatu masa pernah terjadi penipuan vulgar yang merusak reputasi Kompasiana sebagai blog berjamaah. Atas pembekuan akun itu, pemilik halaman Ceritapuri tidak bisa mengakses lagi halamannya untuk menambahkan postingan atau bahkan menghapus halaman.
Monumen itu akan tetap ada sepanjang Kompasiana berdiri. Bedanya, pada halaman Ceritapuri akan dipasang semacam “banner” berisi peringatan yang menegaskan bahwa Ceritapuri adalah halaman fiktif berisi kebohongan publik paling telanjang yang dilakukan seorang Puri.

Haaaa??? waduhhh…..kita kecolongan dong kang pepihhhh, kok tega-2nya dia ya?? cerita, harapan, tulisan dan omongan adalah doa…jadi menulislah, berceritalah mengenai diri sendiri yang baik-2…semoga puri diampuni dosa-2nya….
+1
-1
tapi kalo yang bikin ternyata jadi kena dan mati gimana ya? kita berduka gak nih?… ah, pelajaran amat sangat berharga, nalar kita pun kalah dengan ego…
+1
-1

Akhhhhh…gak bisa komen apa2 lagi…selama ini begitu banyak yang bersimpati pada Puri
+1
-1

Semoga hikmahnya jadi pelajaran buat semua ![]()
+1
-1

Lah, yo pie to iki mas.
Kasian dong yang sudah kena dampaknya sana sini.
Buka kartu. Ngomongin orang. Pake beranteman…..hehe
Tega teganya yang buat cerita.
Btw, kok banyak rencana di kompasiana, tapi tak ada yang layat dan cari kuburnya dimana waktu itu ya.
Setuju Kang Pepih, jangan di del biarin saja, biar kita banyak belajar lagi dari situ
Semua kita bisa silap, ya enggak
Sukes untuk Kompasiana dan Kompasianer.
Salam
rudi esape
+1
-1
Bang Andika jangan begitu dong nanti banyak hati yang terluka lagi terkena sindiran Abang ntar rame lagi deh.
Saya lihat sih justru dengan melalui tokoh fiktif ini kita jadi lebih expressive dalam memberikan dukungan kepada teman-teman kita di Kompasiana. Selain Mawar dan Mbak Linda yang sudah terang-terangan membuka diri mengenai penyakitnya kan masih banyak keluarga dari kompasianers yang menderita penyakit kanker atau keluarganya yang meninggal karena kanker so justru kita harus bersyukur diberi tokoh fiktif ini.
Rencana-rencana justru harus terus digalang kan demi kebaikan sesama manusia so apa salahnya kita tetap menrencanakan insyallah jika memang diridhai salah satu rencana itu akan terwujud sebagai bukti peduli kita kepada sesama.
Adalah manusiawi jika ego kita terluka dan sangat manusiawi jika kita mengakuinya. Ini baru untuk tokoh fiktif apalagi jika tokoh beneran wah hati nurani kompasianers sangat luarbiasa tulusnya. Biarkanlah orang mentertawai kebodohan kita BUT AT LEAST WE KNOW WE DID THE RIGHT THING.
Kita kan hanya manusia bukan superman.Mohon maaf jika ada salah kata ^_^
+1
-1
Mbak Rosij.
Maafiin, ya.
Saya sangat trenyuh dengan kasus ini, kita semua kecolongan.
Dari pengalaman ini tampaknya kita apa apa saja , tidaklah terburu buru dan ingin cepat cepat siapa dapat, akhirnya, karena sudah percaya dengan yang mendahului kita kena getahnya. Betul kata Pak Prof Nurtjahjadi kita ambil positifnya saja dari sini, tidak apa apa, banyak hal yang dapat kita peroleh dari kasus ini. Cuma. Kok tega teganya ya ada orang yang brani ngebohongin kita.
Sekali lagi saya minta maaf bukan untuk Rosij saja, semua termasuk saya sudah dikerjai.
Ok, ya salam, manis, salam hormat, salam persahabatan untuk semua.
+1
-1
Sama-sama Bang Andika, seandainya abang seorang perempuan sudah kupeluk deh ^_~
+1
-1
Teh Rosiy….
ganti meluk Izzah aja!!
Pak Andika…
Prof Nur itu Babe ku lho…
hehehe
Yuukk kita tersenyum sejenak!!
+1
-1
ala tetetubies……!!
Mba Inge dah bangun tuh kaya nya!!
+1
-1
Fawaizzah, tk
Ngerti banget ya. Mungkin ruangnya terbatas, salah sambung bisa terjadi. Swear , tidak bermaksud ngomporin. Maafin ya.
+1
-1
Bijaksana sekali nih yang diatas…Gw ikut deh yang dikatakan mbak Rosiy. Nih gw kasih +1
+1
-1

setuju… !
jika dibiarkan lama-lama “rekayasa” jadi kebudayaan dinegeri ini.
+1
-1

kok kejadian ini mengingatkan kejadian serupa di rumah KOKI ya? jangan sampai ribut-ribut yang pernah terjadi di KOKI juga terjadi di Kompasiana…
+1
-1

Hmmm…Rasa simpati yang dikorbankan oleh Kompasianer jadi petaka.
Mohon diperketat Kang Pep..Supaya tak ada lagi upaya “penituan menulis”
Terimakasih
+1
-1

Keputusan yang bijaksana kang Pepih karena penipuan ini pun bisa dijadikan pembelajaran dan diambil hikmahnya.
Saya mendukung ![]()
+1
-1

teganya orang itu mempermainkan empati semua orang…
+1
-1

Pak Pepih, lha dr Anugra Martyanto ini gimana? jangan2 fiktif juga? kok beliaunya bisa tau kalau “Puri” mati? musti diusut nih…kalo perlu jangan cuma dicabut tapi diblokir ipnya jadi nggak bisa ngaku2 lagi di sini.
+1
-1
dr anugrah gak fiktif hlo. silakan baca komennya di tulisan Budiman Hakim. sepertinya puri ini mempelajari isi blognya dr anugrah tentang para penderita kanker.
+1
-1
dr Anugra sudah membuat pernyataan dan rasa marahnya karena merasa tertipu juga di tulisan pak Budiman Hakim,thx
+1
-1
Hallao………!!!
Ayah Anugrah itu gag fiktip lhoo..!!!
liat aja di postingannya Pak Budiman Hakim!!
+1
-1
dr. Anugra ga fiktif karena omjay cerita pernah ketemu. Bener ga,omjay?
+1
-1
Mohon maaf Kang pepih, saya meminjam halaman ini,
Untuk adik Sri yang saya hormati, saya mencoba menjelaskan ya, saya tidak fiktif, saya ada dan benar benar ada, dan saya Insya Allah tidak melakukan kebodohan ini dengan membohongi publik, karena saya sudah 2 kali hadir dalam kopi darat dengan para Kompasianer, begitupun dengan pihak Admin, saya sangat membuka identitas saya, foto saya, alamat email saya, no.HP saya, alamat jelas saya dan rumah sakit tempat saya mengabdikan Ilmu saya, jadi saya tidak Fiktif seperti yang adik tuduhkan.
Mengenai saya mengetahui berita kematian puri, saya menerima berita duka ini via SMS ke HP saya, Dan memang HP saya ini saya buka dan saya sebarkan buat semua pasien pasien saya di dunia nyata (sesungguhnya) dan pasien pasien saya didunia maya, termasuk di Kompasiana ini, apakah saya salah untuk meneruskan berita ini, apalagi berkaitan tentang berita duka, dan apakah saya harus mengetahui semua pasien pasien saya di dunia maya secara detail menyangkut, identitas pribadinya?, karena saya sendiri tak mampu melakukan pengecekan ini, jangankan identitas pribadi, mengetahui nama yang konsultasi ke saya asli atau palsu (samaran) saja saya tak bisa membutikannya.
Jadi saya berharap adik Sri jangan menambah keruh suasana dengan menyebar Fitnah kalau saya fiktif, apalagi kalau saya dianggap penyebar fitnah, untuk lebih meyakinkan adik Sri , silahkan adik Sri menghubungi No HP saya 02817922555 atau HP lainnya 08161111743, kedua no HP ini asli dan terdaftar di PT. Indosat Tbk dan PT Telkom Flexi karena saya menggunakan no. reguler bukan nomor Pra bayar yang mungkin saja bisa memalsukan identitas penggunanya dan Email saya anugramartyanto@gmail.com atau anugra.martyanto@yahoo.co.id,
Seandainya saja adik Sri tidak mau mennghubungi saya via apapun yang saya tawarkan diatas ini, dengan alasan apapun, silahkan hubungi Provider kedua perusaan itu, karena semua Identitas dan alamat saya terdaftar jelas di sana.
Atau bila kurang yakin juga, adik Sri dapat menghubungi pihak Admin, karena Identitas dan alamat saya juga terdaftar di pihak Kompasiana.
Saya benar benar mendedikan diri saya dalam pengabdian di dunia medis sesuai keilmuan dan disiplin Ilmu saya dan saya terikat sumpah jabatan dalam Profesi saya, sepertinya saya akan merasa bodoh sekali kalau saya harus mengorbankan dan mempertaruhkan ini semua demi sebuah kebohongan Publik.
Kalau adik Sri masih meragukan juga, silahkan adik masuk ke dalam Blog KKI (Kolegium Kedokteran Indonesia) dan blog IDI (ikatan Dokter Indonesia) Nama saya terdaftar dengan jelas dengan nomor Ijasah S1, S2 dan S3 saya, serta Ijasah Spesialisasi saya sebagai dokter spesialis. dan Juga nomor Ijin Praktek saya dan nomor Reg. KKI saya.
Semuanya Asli, karena saya memperjuangkan itu semua sesuai perjalan studi saya mulai Kuliah S1 hingga Profesi Kedokteran, dan ini ada dasar hukumnya, baik hukum negara di bidang pendidikan atau hukum kesehatan di bidang pelayanan medis.
Saya kira demikian penjelasan dari saya selaku pribadi yang mengunakan Nama : Dr.dr. Anugra Martyanto, SpB.Onk, FICS, Ph.D, M.Kes. M.Si.
Kalau masih kurang yakin juga saya hanya berucap Astaghfirullah, dan mohon ampun kepada Allah SWT.
Salam Hormat buat Adik Sri dari saya, Anugra Martyanto, di Purwokerto
+1
-1
Ayaaaahhh………….!!!
Ayah jangan kebawa suasana, mungkin Mba Sri itu salah ketik apa kebawa emosi.
tapi ayah ga boleh ikut kebawa esmosi!!!
Sabaaar ayaaahh…….!!!
Biarkan orang berkata apa, bukankah amal baik kita sebaiknya hanya Allah yang tahu.
Ayah, Izzah percaya dan yakin seyakin yakinnya bahwa Ayah Anugra itu ada, karena Izzah sering berkomunikasi dengan Ayah.
Ayah Istighfar ya!!
Izzah sayang Ayah!!
+1
-1
Sabar pak dokter…itu menandakan bahwa Ibu Sri hanya menduga2x saja tanpa meng-cross check terlebih dahulu. Dugaan bisa membawa fitnah kalau tanpa disertai data2x.
Sudahlah, kita ambil saja hikmahnya dari kejadian ini. Toh ada juga hal positif dari ini.
Tetap semangat Pak Anugra. Tuhan selalu memberkati kita semua, AMin
+1
-1
Kalau pak dokter fiktif, nyawa saya taruhannya
+1
-1
yang bener kang Wawan???
kok bisa jadi gaswat getu??
Ssssttt…..
(bisik2) memangnya Ayah Anugra sehebat itu ya?
+1
-1
Mbak, dokter Anug tidak ‘hantu’ tapi nyata. Waktu kopdar pertama kali, dialah yang saya sapa tanpa saya tahu sebelumnya bahwa dia adalah seorang dokter. Bersahaja, tenang, dan simpatik.
Selama menulis di Kompasiana pun, pak dokter ini senantiasa memampangkan fotonya. Namanya pun lengkap, bukan nama samaran seperti yang sudah-sudah kita ketahui dari sebagian orang yang berada dalam jajaran ‘kaum intelektual’ bahkan mungkin pejabat, tetapi tak berani menyebut nama asli.
Dokter Anug juga salah satu korban pemalsuan cerita ini. Bahkan dia justru yang ‘paling kejedot kepalanya ketimbang kita , karena berita duka itu munculnya ke pak dokter langsung.
Kalau waktu senggang pun, kami berkomunikasi lewat inbox. Pak dokter yang rendah hati ini menjadi salah satu teman pria saya di sini yang santun dan mengobrol secara terukur meski penuh gurauan juga.
Saya tahu pada akhirnya dokter Anug menerima hal ini dengan lapang dada ~ meski saya pun paham perasaan seseorang yang diperhina orang , seperti yang beberapa kali pula saya alami di sini. Sekian penjelasan saya. Salam, LINDA
+1
-1
pak dokter, yang sabar yaaa. ini adalah kerikil kecil dari saudara sri. bisa jadi dia itu anak muda yang baru gabung disini hehe
tapi bisa jadi dialah yang PIKTIP !
+1
-1
Saya sangat menaruh hormat pada pak dokter kenapa ? nih saya kopasdialog saya dengan beliau pada tulisan “Gerakan Pita Pink di SMP NU”
8 November 2009 | 09:18
0
Kang Wawan, saya sangat apresiatif sekali dengan semua yang kang Wawan lakukan, inilah perwujudan dari “Take Action” yang sesungguhnya dan diikuti “Go Action” yang sangat nyata.
Salut buat Akang, saya bahagia dan bangga dengan semua ini, he…he…saya jadi malu, kalah start nih…karena saya belum berbuat apa apa yang dapat mewujudkan harapan adik Puri dengan gerakan pita pink-nya, sungguh…, kecuali memang pekerjaan saya di meja operasi yang membantu semua pasien pasien seperti yang di alami adik kita Puri.
Selamat ya kang, saya sangat mendukung dengan apa yang sudah kang Wawan lakukan, sebuah ketauladanan yang patut diikuti oleh para Kompasianer lainnya, sayapun bersedia kalau kang Wawan meminta saya untuk memberikan sedikit ilmu yang saya miliki ini buat berbagi kepada anak anak didik kita disekolah akang, bisa kita atur waktunya Kang…
Salam sukses dari kami, Anugra Martyanto
=========
8 November 2009 | 10:40
0
Terima Kasih Pak dokter,
Pak dokter sama sekali tidak kalah start, sebab yang kita tangani berbeda
Pak dokter, mengobati/menyembuhkan yang sudah terkena, sedangkan saya hanya bisa mengupayakan pencegahannya saja.
Terima kasih atas kesediaan Pak dokter untuk memberikan ilmu ke anak didik saya, tapi lokasinya jauh sekali Pak dokter, dan itu akan menyita pak dokter untuk berjuang di meja operasi. Saya pikir pak dokter cukup memberikan ilmu berupa artikel yang berhubungan dengan kanker payudara, nanti tugas saya menularkannya ke anak didi saya.
salam
Wawan Supriadi
===============
Jarak tak membuat saya surut kang Wawan, Karena desa terpencil di pedalaman Irian jaya (sekarang Papua barat) saja saya jalani dengan perahu kecil hingga tuiga hari dua malam, apalagi lokasi sekolah akang di sumedang, yang bulatnya roda kendaraan masih bisa melaluinya, he…he…jadi curhat nih…
Tapi penawaran saya tetap berlaku sampai kapanpun, karena perlu saya sadari sendiri tugas dokter ada tiga; 1. Pelayanan medis, 2. Pendidikan kesehatan, 3. Melakukan penelitian dan pengembangan Ilmu Kesehatan.
Nah! saya juga punya kewajiban pada poin no. 2 itu kang, makanya saya selalu bersedia membagikan sedikit titipan ilmu dari Tuhan ini, apalagi buat anak anak didik kita, pasti mereka akan senang dan yang sudah saya lakukan selain menambah ilmu mereka, mereka bisa wawancara dan bicara langsung dengan dokternya, dan bisa memotivasi semangat belajarnya dengan sesekali keluar dari bentuk methode belajar dan mengajar yang rutin mereka lakukan, dan hal ini yang saya rasakan walau saya sering mendapat julukan dokter bodor yang banyak melucu dihadapan mereka, karena dengan menciptakan keceriaan yang memang milik anak anak kita, proses transfer of knowledge ini akan berjalan dengan maksimal tanpa ada unsur terpaksa dan beban, sangat soft dan ringan, inilah gaya saya mengajar kalau didepan anak anak didik kita di sekolah mulai SD hingga SMA, mau coba dan melihat gaya ngebodor saya kang Wawan…? he…he…, pelawak debodor dari bandung kalah lucunya kang….ha…ha…
Salam hangat dan sukses buat kang Wawan.
=========
Hehehe sama dong Pak, walaupun saya guru matematika nggk kiler tiada hari tanpa tawa, dengan demikian diharapkan anak dapat lebih rileks, nah kalau siudah rileks, gampang menerima hal baru dari luar.
Baiklah Pak Dokter, nanti saya coba koordinasi dengan sekolah lain supaya sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih
Salam hangat
Wawan Supriadi
=================
dari dialog tersebut anak kecil pun bisa tahu bagaimana karakter seorang dokter Anugra, yang mungkin sudah menjadi barang langka untuk masa sekarang
+1
-1
Sabar Dok!!! Biarkanlah orang bilang dokter fiktif… tetapi tindakan yang dilakukan dokter toh sudah banyak yang merasakannya… baik diobati langsung, lewat konsultasi, ataupun lewat tulisan yang dokter buat!!!
Sabar ajalah, ya! Keep on doing the best!!!
+1
-1
@Sri, Dr Anugra itu tidak fiktif, dia dokter paling rendah yang pernah saya kenal. Saking rengah hati dan sederhananya, penampilannya tidak terkesan seorang dokter ahli kanker. Saya hormat padanya saat ketemu di Kopdar I Kompasiana 22 Maret 2009 lalu. Makanya ketika mendapat pesan Dr Anugra tentang Puri, saya langsung bertindak dengan menulis postingan di makam ibu melalui blackberry. Itu semata-mata karena selain hormat saya pada Dr Anugra, saya hormat atas empatinya yang begitu dalam terhadap Puri, meski kita tahu akhirnya Puri ini fiktif belaka!
+1
-1
Kang Pepih
Tanggapan Nompr 4 sejatinya saya tujukan ke Kang pepih.
Saya tahu Kang Pepih bukan orang jawa. sama dengan saya. tapi aya yakin kang Pepih bisa bosso jowo. Makanya pembukaannya saya tulis nganggo bosso jowo.
Saya tidak bermaksud ngomporin lo kang. Cuma kaget. Lho kok isso, trus dampaknya………..
Yo wiss, yo. Saya minta maaf ke semua, kalau ternyata itu salah.
Bener, saya tidak baca sama sekali aslinya tulisan Puri. Cuma saya kalau ada waktu suka ngintip kompasiana, yang rame rame.
salam
+1
-1
Saya agak kaget Mas Iskandat Jet bilang pada postingannya dr Anugra praktek di Banyuwangi. Pikir saya, kapan pindahnya? Gak tahu udah dikoreksi belum sama Mas Is.
+1
-1
walah, salah ketik tuh mas dwiki. maksud hati mengetik banyumas, apa daya tangan belibet. saking keselnya, saking dongkolnya, sampai2 saya bingun sendiri kemarin mau nulis dari mana dengan luapan emosi sebesar apa.
makasih koreksinya. dan sekali lagi, pak dokter ini bukan fiktif. malah saking aslinya, dia berhak memperkarakan orang yang mengirimkannya sms palsu…
+1
-1

he he he jadi gak bisa ngomong,eh komentar, aku dukung keputusan kang pepih
+1
-1

trus gimana account pita pink di FB? saranku sebaiknya tetap ada karena banyak yang memang menderita kanker dan butuh dukungan. namanya aja kita rubah?
+1
-1
account itu tetep ada mas, namanya juga udah sya ubah
+1
-1

Kang Pepih, tentang ceritapuri, ada koment saya yang rada nyleneh untuk artikel Susu Siji, saya mendapat diteguran begitu. Setelah saya mendapat berita duka dari Dr Anugra, lansung saya buat posting tentang berita duka, tetapi isinya adalah pengalaman saya berhadapan dengan orang yang menderita kanker getah bening. Yang saya lihat dari kawan saya yang menghadapi kematian, dia tidak ingin penyakitkanya dibahas, akan lebih membuat persaannya tertekan, yang dia cari hanya kedekatan dengan orang2 untuk mendapatkan kegembiraan sehingga dia dapat melupakan penyakitnya itu.
Mungkin pola pikir orang berbeda2, tetapi secara psikologis dia berusaha tidak mau mengakui penyakitnya agar kematian tidak menjadi menakutannya. Yang saya dapatkan dari teman saya itu, dia berharap yang dideritanya bukan kanker ganas, makanya dia tidak mau penyakit itu dibahas atau diketahui orang lain.
Berbeda dengan ceritapuri yang mengajak semua orang untuk mengetahui penyakitnya, kelihatannya yang seperti itu disampaikan oleh orang sehat. Hanya orang sehat yang sanggup bercerita semacam itu, sedangkan yang benar2 menderita penyakit itu kemungkinan besar ingin menjauhkan pikiran dari penyakitnya itu.
Mungkin diantara kompasioner ada yang berlatar belakang psikologi, dapat berbagi pengetahuan dalam melihat ungkapan seseorang agar kita tidak terkecoh.
Salam.
+1
-1
itulah pak…saya pernah koment atas berita duka citanya. Saat itu saya mengatakan salut karena dia begitu tenang menghadapi kematiannya. Begitu ceria, seakan tak terjadi apapun. Nyatanya?…
+1
-1
Sabar Buuuww!!
Jangan terkecoh untuk kedua kalinya hanya untuk terpancing ESMOSI!!
Tar si tukang bohong itu malah bangga lagi!!
So… tetep Tersenyum!! ![]()
+1
-1

seberapa jauh kang pepih melakukan cek dan ricek itu.? apakah hanya karena pernyataan dari seorang Budiman Hakim, praktisi periklanan yang namanya sudah menembus batas dunia iklan itu?
+1
-1

Kenapa bukunya gagal diterbitkan? Kan kasihan teman-teman kita yang sedang berjuang untuk melawan kanker. Mereka dan keluarganya membutuhkan dukungan kita berupa semangat untuk tidak putus asa.
Dr. Anugra sebagai pencetus ide buku tsb mungkin mempunyai pertimbangan sendiri karena beliau kan ya tiap hari dikelilingi penderita kanker jadi beliau tau betul apa yang dibutuhkan oleh mereka.
Mengenai yayasan Puri kenapa kita tidak lanjutkan mungkin namanya diganti dengan yang lain atau tetap memakai nama tsb sebagai kenang-kenangan ^_~
Ayo semangat ach ^_^
+1
-1
gw suka gaya lo..!! setuju aza klw ‘tokoh’ puri nya di ganti..
ayoo.. semangat..semangat…
+1
-1
Setuju sama Mbak Rosiy … ayooo semangat. Kasus Puri memang akhirnya jadi bikin jengkel tapi ayo coba kita lihat sisi positifnya, kesadaran tentang ancaman penyakit ini bertambah tinggi … itu lebih penting. Salam …
+1
-1
Setuju Ceu!!! Konfirmasi dengan Bang Andy Syoekry Amal dan Hadi Samsul yang sudah bersusah-payah membuat account ini.
+1
-1
Ngomong-ngomong mariska real gak nih? siapa tau yang datang ke Mario place tokoh fiktif ^_~
+1
-1
Hehehe… silahkan dicek and ricek atuh Ceu! Makanya… kirim roti gambangnya ke rumah… biar bisa sekalian ngecek! hehehehe…
+1
-1
Ditagih lagi euy ini masih nungguin smsnya sing sabar ya
+1
-1
Setuju sama Teteh!!!
meskipun Puri itu tokoh fiktip, tapi kita semua jadi menyadarikan klo disekitar kita banyak orang yg menderita penyakit seperti itu, dan kita timbul rasa kebersamaan untuk membantu orang lain.
Ayo Donkk…….!! tetep semangat!!
Jangan pada ESMOSI YA!!!
Ngomong2 Izzah beneran ada lhoh!! bukan tokoh piktip!! :p
+1
-1
iya nih.. jngan2 ML jga fiktif nechh.. nanti ‘undangan’ nya fiktif pula..
pisss ahh..
+1
-1
Setuju utk pendirian yayasan…Tidak harus kanker payudara saja kan? Buat perempuan, ada banyak kanker2 lainnya. Sudah saatnya wanita sadar kesehatan dirinya
+1
-1
Mbak Rosiy, nah Anindita sebenarnya Kompasianer Fiktif… Buktinya? Antara rupa aslinya dengan foto profil kayaknya cantikan rupa aslinya… ![]()
+1
-1
@ Rosiy: mariska itu real kayaknya, saya pernah ngobrol langsung hiihii, kalo ceu rosiy gak tau deh, roti gambangnya aja belon kecobaan heheheehehehehehehehe
+1
-1

Dari gaya tulisan di atas, saya menangkap dan merasakan betapa Kang Pepih “marah besar” atas apa yang telah diperbuat secara sadar oleh Puri dengan postingannya atas nama “sebuah kompetisi” di Kompasiana ini. Ungkapan bahasa saya berikut ini mungkin vulgar, namun jika disimpulkan tak pelak ini kado menyakitkan Kompasiana menjelang akhir tahun: Skandal Kompasiana!
Semalam, di peraduan sebelum mata terpejam saya malah berpikir ekstrim: tidak mau add Kompasianers dan berkomentar pada Kompasianers dengan “identitas tidak jelas”. Mungkin terasa naif. Tante Linda, tidak bosan-bosannya memperingatkan soal yang satu ini. Namun, ternyata dengan tampilan baru Kompasiana dan registrasi aktif saja hal demikian masih bisa dikelabui.
Mempermainkan dan mengaduk-aduk emosi pembaca lewat cara-cara yang ditempuh “Ceritapuri” bukan hanya tidak etis melainkan, maaf, suatu kebiadaban. Orang yang punya adab (sebagai lawan kata biadab) niscaya berpikir seribu kali untuk membohongi para pembaca melalui tulisan yang dipublikasikannya.
Jadi, maaf, tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Kompasianers yang selama ini berlindung dibalik “nama alias” atau “foto palsu” marilah ikut menjaga “apartemen” ini dari makelar kasus atau pencoleng yang akan merusak citra apartemen ini yang tengah menanjak.
+1
-1
sabar om…..sabar…..
jangan kebawa esmosi!! sabar…sabar…
mudah2an berita ini segera bisa diusut. kita berdoa saja!!
+1
-1

Salah atau betul, benar atau tidak, mari kita bersama-sama menerima dengan legawa. Sebab, masih ada saja di sini yang jadi ‘kompor’ dan tampaknya tertawa atas kejadian ini ya? Mau berantem kek, buka rahasia diri kek, tapi yang terpenting adalah terbukti kita masih punya hati atas penderitaan orang ( asli atau palsu ) dan kompak sekali….
Ambil saja hikmahnya atas kejadian ini. Bisa terukur kok, mana yang akhirnya teman sejati.., mana yang selalu nyinyir seperti banci….
+1
-1
Maksud mbak Andika alis rudi esape diatas ??
Saya maklumi bahwa mbak terusik dengan tanggapannya yang jadi “kompor”. Mungkin sodara kita itu melihatnya dari kaca mata yang biasa dipake penghuni taman lawang, seperti kata mbak diatas.
Sabar ya, kan sekarang sudah tau mana teman sejati dan mana teman palsu. salam.
+1
-1
Sebentar Tante Linda… Kompor? Dan nampaknya tertawa atas kejadian ini? Wah pikiran saya malah “muler-mungkret”, belum terlintas di pikiran.
Yang pasti, atas soal ini ada orang menepuk air di dulang… akan terpercik muka sendiri!
+1
-1

oooo gitu toch ceritanya,,,ketinggalan ni,,…. pantas pada rame…..
salam kenal pak.!
+1
-1

terlepas dari fiktif atau tidak, artikel itu memberi dampak positif ataukah tidak? itu yang lebih penting..
+1
-1

Filing saya berjalan di saat banyak kompasianer memberikan duka cita dan menuliskan tentang Puri, sekarang saya dapatkan jawabannya. Tindakan yang bagus Bapak Wijaya, aku mendukungmu, jikalaupun itu terjadi kepada saya, pasti saya akan malu sekali dan menyesalinya. Semoga itu tidak terjadi kepada saya.
+1
-1

Cerita puri pada saat itu sesungguhnya tdk terlalu membuat saya terharu, tapi dari postingannya saya menilai bahwa sosok puri adalah org yg sekarat dgn kanker, tetapi telah memperoleh pencerahan, tdk takut mati, bahkan sepertinya ikhlas menerima keadaanya.
Apalagi ditambah dgn sempat-sempatnya dia menulis positngan di kompasiana, sungguh sosok puri ini seribu satu jika ada di dunia nyata. Saat ada ide membuat tulisan utk puri pun, saya agak malas membuatnya, entah kenapa………mungkin krn didunia maya, sehingga membuat saya tdk terlalu hanyut di dalamnya.
Biarlah melalui waktu akan mendewasakan kompasiana…….sebab ketika kita masih diberi waktu…tentu akan mampu melakukan banyak hal utk hidup itu sendiri…….termasuk kompasiana ini….best for all……
+1
-1

ya sudah yang sudah terjadi biarlah terjadi dan dijadiin pelajaran aja buat kita semua,mudah mudahan rekayasa seperti ini tidak terjadi kembali,karna sudah merugikan orang banyak.akan tetapi kita semua tetep harus bisa meluangkan sedikit waktu untuk bersosialisasi.
+1
-1

jadi seperti itu ya ceritanya, saya kurang mengetahui cerita mengenai puri, hanya saja nama puri sangat terkenal, tenryata sebelum saya mengetahui siapa puri, si puri sudah menjadi “almarhum” karena dibanned oleh admin. benar-benar suatu hal yang sangat mengejutkan jika ternyata ada orang yang dengan tega mempermainkan perasaan orang lain lewat tulisan yang dibuat.
namun, ya kita ambil hikmahnya saja, bahwa banyak orang yang ternyata masih punya simpati dan cerita mengenai puri bisa menggugah, memotivasi orang lain yang juga terkena penyakit kanker ini. itu saja terimakasih
+1
-1

duh…cuma tau critanya samar samar..maklum orang baru..semoga gak terulang ya
+1
-1
waah, kita orang baru kena getahnya neeh. Dear mbak, saya orang baru di Kompaiana, tapi saya real n gak fiktif lo
+1
-1

duh…cuma tau critanya samar samar..maklum orang baru..semoga gak terulang ya
+1
-1

Kang Pepih, sebetulnya waktu mendengar cerita yang menggugah rasa itu saya sudah punya intuisi walaupun remang-remang kok sepertinya ada something wrong. Tapi saya nggak berani ngomong, karena nanti pasti akan dihujat sebagai orang yang nggak punya perasaan. But after all, ini pelajaran buat kita semua bahwa ketulusan pun bisa diciderai. salam saya
+1
-1

Kang Pepih, saya mengusukan sebaiknya untuk bisa registrasi di Kompasiana tetap harus melalui moderasi admin, sehingga tidak ada nama fiktif yang masuk jadi anggota. Hal ini semata-mata untuk menjaga nama baik jejaring yang membawa nama besar Kompas ini. Bila nama yang terdaftar memang sesuai identitas sebenarnya, saya kira tidak akan ada yang berani mengirim berita palsu yang mempermalukan dirinya sendiri. Trim’s
+1
-1
waduh..mas rihat…saya tidak pake nama asli…tapi potonya asli loh..
say kegusur dong (wkkk)
saran saya ni.. untuk registrasi,, untuk nama bebaskan saja,,
(mungkin bisa dengan menggunakan nomor KTP/SIM)
atau dengan cara registrasi gmail yang baru,, dengan menggunakan nomor handphone…..
saya kira KTP/SIM / no telp lebih akurat ketimbang hanya mempersoalkan nama
salam hormat dari yang muda..
+1
-1
boljug idena … klo nama kan hanya ID name … nama maya yg sudah lazim lah sepertinya … yg mesti wajib itu foto dan identitas pribadi yg resmi : No HP/KTP/SIM and so on …
+1
-1
Pro: Kopi Makcik dan BlackGerry. Mengapa sih takut pakai nama asli?
+1
-1
mas Dwiki @ bukannya takut ya,,, ngg banget dah…
1. ni kalo nama saya oji, ,, terus coba fikir ada berapa juta nama itu,,, apa yang membedakan oji saya dengan oji yang lain…..
2. trus soal url.. “jika saya mau menggunakan url (/oji) lalu itu sudah ada
apa saya ngga boleh ikut,,,
3. dalam database,,,,ada namanya primary key….foregin key dll..
nah untuk primary key ,,harus bertipe unik
(itu yg digunakan dalam database untuk membedakan data yg satu dengan yg lain)
4. wah kalu id name saja sudah tidak dibebaskan,,saya mending mengundurkan
diri,,saja dari sini,,,
padahal saya dapat manfaat banyak dari sini,,,,
salam hormat mas dwiki@
+1
-1

Tenang… sabar, Kang!!! Semua Kompasianer harap tenang… iya… kita semua marah… marah banget malah!!! Saya juga dari semalam sudah pengen ngamuk rasanya!!! Tapi, terlepas dari semua tulisan yang pernah kita buat untuk Puri, dan apapun yang telah kita lakukan dan kita rencanakan… bagaimana kalau kita menelusuri juga apa maksud dari orang yang membuat cerita puri ini dan siapa dalangnya?
Kalau tidak salah, dr Anugra menyebutkan kalau beliau mendapatkan pesan dari kakak angkatnya Puri, seorang kompasianer juga yang bernama… kalau tidak salah Iman… dari Yogyakarta. Coba kita telusuri, deh! Kakak angkatnya ini ke mana? Kok, nggak nongol-nongol jjuga setelah pemberitaan ini… terus… bisa minta tolong kasih informasi soal nomor telepon orang yang mengaku keluarga Puri ini… kita bisa telusuri lewat sana…
Satu lagi, nih, apa ada yang punya akses atau kenalan dengan penyelenggara acara daun muda awards? Kita pasti bisa minta mereka untuk membantu menyelesaikan persoalan ini.
Jujur saja… saya menaruh kecurigaan yang sangat besar terhadap orang-orang di balik layar ceritapuri ini… bukan hanya memiliki tujuan untuk mencari simpatik Kompasianer saja, tetapi ada hal-hal lain yang saya yakin bukanlah sebuah niat yang baik bagi masa depan kompasiana dan kompasianer ini sendiri.
+1
-1
ide yg bagus … jangan kayak perseturuan kPK n Polisi … kita di dunia maya yang bertangung jawab mesti bersih dan bisa menampilkan bukti yang validitasnya di akui … usut tuntas kasus puri … klo catatan tentang kanker payudaranya … boleh juga dijadikan buku … misalnya balada kanker payudara .. antara hoak dan empati …
+1
-1
setuju sama Mba Mariska!!
Kita semua pasti kecewa dengan adanya hal semacam ini, tapi tak seharusnya kita marah2 dan emosi meledak2 sehingga semakin membuat puas org yang “nakal” itu.
kita telusuri aja semua itu dengan informasi2 yang telah ada, supaya cepet diusut.
sabar…….sabar…….
+1
-1
mbak ika, sekedar meluruskan. imam itu kaka angkatan alias kakak kelas. bukan kakak angkat. tadi saya telpon mas imam buat bantu menelusuri seseorang bernama riki yang kirim forwardan sms itu, karena riki inilah yang ngaku jadi kakaknya puri. semoga mas imam berhasil menemukan orang itu….
+1
-1

hahahahahahah….saya juga kena getahnya, ada hikmahnya, karena serunya penyakit yg dialami puri lalu sy mengandaikan begitu bahayanya dua gunung nona lagi ngambek seperti bahayanya gunung merapi,
sudahlah Kang Pepih dunia memang panggung sandiwara, apatah lagi di dunia maya , tp yakin saja tidak ada upaya kebajikan yang sia-sia, seperti kita tulus memberi sedekah kepada seorang pengemis di jalan, mungkin karena kasihan, sungguh niat itu telah sampai berikut balasannya, walaupun ternyata pengemis itu hanya profesi untuk cari duit, tidak miskin, dan jadi pengemis hanya sandiwara.
dia telah menipu kita, tapi kita membalas dengan kebaikan, bukankah begitu semua ajaran agama dan pesan leluhur kita.
tp jangan2 ada pihak sudah merasa tersaingi dengan blog ini, sehingga muncul modus untuk melemahkan semangat menulis kompasianer, tujuannya kita bisa tebak sendiri.
karena setiap penulis bertanggungjawab dgn hasil postingannya, sy kira jika memungkinkan, perlu ditelusuri siapa tokoh intelektual dibaliknya, agar rekayasa jgn jd budaya
salam
+1
-1

Sebetulya memang mudah melacak dari panitia itu. Asalkan mereka mau bekerja sama. Tapi juga untuk apa ya? Semua sudah terjadi, kecuali memang kita ingin memperpanjang cerita ini .
Berulangkali saya katakan, ambil saja hikmahnya. Dari proses penceritaan sampai mati eh wafatnya Puri bohongan itu, dan sampai terbukanya penipuan ini, sekali lagi, kita jelas-jelas bisa melihat siapa yang betul-betul prihatin atas hal ini, siapa yang dari balik pintu tertawa lebar dan mengungkit-ungkit keprihatinan dan kebersamaan kita yang lalu itu.
Temans, tetaplah berKompasiana. Dengan jiwa yang sehat. Dengan hati yang tidak bengkok. Dengan menjaga mulut, tentunya. Dengan ini pula, dengan segala kerendahan hati saya minta maaf juga kepada adik Mahendra. Saya tidak akan mulai dengan kalimat, ‘kalau dianggap saya bersalah, saya minta maaf’ ~ namun akan sekali lagi saya ulang, karena memang saya sudah salah duga akibat penipuan ini, saya minta maaf kepada adik Mahendra.
Salam,
+1
-1
saya setuju dengan apa yang dikatakan mbak linda,buat apa sih diperpanjang lagi semua sudah terjadi.lagian kalo dah ketemu identitas nya mau diapain coba??yang penting kedepanya kita harus berhati hati menghadapi masalah seperti ini.
+1
-1
Ibu Linda
saya minta maaf ke ibu, kalaI bu terusik dengan tanggapan saya diatas, saya tidak bermaksud menyinggung sesiapa, cuma sangat trenyuh dengan kasus puri, Saya terus terang tidak baca sama sekali tulisan puri termasuk tulisan bu Linda, Sungguh, Swear. Saya hanya baca tulisan yang banyak tanggapan itu dulu saya malah lupa siapa yang tulis dan tulisan pak Prayitno, kalau tidak salah.
Dan penasaran baca lagi tulisan Kang Pepih ini, itu saja. seingat saya.
Maafin ya Bu, saya tidak sama sekali bermaksud menyinggung siapa siapa, cuma meluahkan rasa kesal saja.
Salam
+1
-1
Bapak Andika, (yang dulu memakai nama samaran Rudi Esape) yang saya hormati,
Mohon kalau Anda ada waktu, buka lagi postingan Unang Muchtar tentang Rima Melati dan Linda Djalil….
Tolong dibaca komentar Anda nomor 4. Setelah itu, di postingan Pepih di sini, komentar ke 33 yang Anda tulis, mohon dan mohon disimak lagi. Kalau mata saya tak salah baca, di situ tertulis kata-kata, KASIAN DONG YANG SUDAH KENA DAMPAKNYA SANA SINI. BUKA KARTU. NGOMONGIN ORANG. PAKE BERANTEMAN. HEHE..
Ok Anda mengatakan tidak membaca tulisan Puri atau tulisan saya. Tapi postingan Unang Muchtar sangat berkaitan dengan tulisan dan kejadian yang menimpa Puri, bukan? Dan Anda sempat mengomentari dengan kata-kata BERANTEMAN itu kan? Belum lama lho pak.
Hari ini, Selasa tgl 10 November belum lagi usai. Ini masih pk 7.30 malam waktu Jakarta. Jadi pasti Anda juga belum lupa deh. tulisan itu.
Mohon ya pak Andika, tak usah menyebut kata SWEAR lho…. sebab kami di Jakarta sedang jenuh dengan sumpah pejabat lho…, kan akhir-akhir ini ada pejabat bersumpah dengan uraian air mata di depan banyak orang, namun tampaknya tetap tidak mempan menarik simpati orang.
Salam dari Jakarta, dan doakan saya ya, kalau kesempatan berkunjung ke Kuala Lumpur yang barangkali dengan rombongan dari instansi dari Jakarta bersama rekan-rekan para senior Bapak ( kalau tidak salah lho ), saya ingin sekali berkenalan dan bertatap muka dengan Pak Andika. Sampai jumpa. Tak lupa salam hangat dari saya untuk istri dan anak-anak Anda di rumah.
+1
-1
maaf salah tulis, maksud saya, komentar pak Andika di sini di tanggapan nomor 4, dan di postingan Unang Muchtar yang lalu ( Rima Melati dan Linda Djalil ) tanggapan ke 33. Tnx.
+1
-1
Bu Linda
Dengan hati yang tulus saya, minta maaf kalau itu salah. Saya tidak sama sekali ingin menyinggung bu Linda yang saya hormati dan kagumi. Benar bu saya belum baca postingan bu Linda, Ketawa dong Uni Linda, Jok gitu dong, maaf ya
Saya tunggu Bu Linda ke KL bener, kita ngobrol santai dengan Prof Nur, kami sering kumpul.
Rudi esape, itu bukan nama samaran sebenranya. Rudi nama kecil saya. Esape, ibu Linda sudah tahu lama itu apa, ya kan,
Maafin ya.
Na , gitu dong Tk ya.
+1
-1

Saya dukung keputusan kang Pepih diatas. Langkah yang cepat dan tepat. Salut.
Salam.
+1
-1

Bahwa Puri adalah sosok fiktif, kita harus menerimanya dengan legowo. Namun siapa yang membuat tokoh fiktif itu? Apa motivasinya… Sebelum adanya pihak yg mengaku bertanggung jawab, maka Puri haruslah kita anggap bukan fiksi.
Atau paling tidak pembuatnya akan mengikuti jejak Puri dalam waktu yg tak terlalu lama… Liat aja nantiiii…..
+1
-1
sabar33 daeng andy jgn dulu keluar aslinya, yg jelas org itu juga kagak nyenyak tidurnya, karena kalah, tidak ada kebohongan yg lolos dari sunnatullah atau karma, alam semesta telah merekamnya dan akan memprosesnya sesuai hukum alam yg berlaku, smg saja dia dapatkan di dunia bukan di akhirat….
salam
+1
-1

Saya pikir salah baca Judul, ternyata isinya beneran. Bener-bener edan nih orang, ternyata ceritanya boongan, padahal simpati dari Kompasianer mengalir deras untuknya, bahkan banyak yang menangisi. Semoga ini jadi pelajaran buat kita semua
+1
-1

walah.. teganya… teganya… teganya…
salut untuk keputusan tegas ini ![]()
+1
-1

Dari dulu saya memang tidak simpatik banget, makanya tulisan ttg puri langsung tak pernah saya baca apalagi komentar,…..mungkin nurani mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak ikhlas atau hiperikhlas dari teman2,…akhirnya rekan2 kompasiana jadi over perasaan duka tapi diboohongi…..
Maaf saya bukan jenis manusia bisa menerima dari pandangan/ cerita pertama……
Bagini aja Inna lillahi wainna ilahi rajiun bagi kita yang terperdaya….
+1
-1
Orang Malaysia yang gak ngerti Common Law
+1
-1
saya bukan orang malaysia kodong (nakana mangkasara), …..saking tidak ngertinya malaysia common low akhirnya dia juga ndak ngerti demo-demoan kayak mahasiswa kita…..
pizz 10000000x
+1
-1

hanya orang gendeng bikin postingan bohong di kompasiana.
tapi kita juga salah jika terus berpolemik mempersoalkan benar tidaknya tindakan pembuat akun PURI. biarlah kasus Puri menjadi sejarah kelam bagi kompasiana dan bagi sejarah intelektual.
benar kata mbak linda, kita harus legowo.
+1
-1

Tanpa mengesampingkan sikap empaty terhadap penderita kanker ataupun sakit akut sejenis, saya salut untuk tindakan tegas admin kompasiana yg tanpa ragu memutus akun puri tanpa harus membuat TPF atw dengar pendapat dulu dgn members. Sesungguhnya itikad baik harus disertai dgn usaha yg baik pula. Tetaplah menjadi baik ditengah peluang besar untuk berbuat tdk baik
+1
-1

kalau ketemu identitas orangnya enakan diapakan ya?…Apakah dia orang waras atau psikopat?….
meski kita harus legowo menerima kebohongan ini, sudah selayaknya orang itu menerima hukuman. Apalagi bila ternyata dia bukan penderita kanker, tumor, & penyakit lainnya.
Tega-teganya
+1
-1

+1
-1

Wah…perlu meibatkan penegak hukum ne…itu tuh yang lagi nyari si Julianto, sekalian nyariin sosok puri…biar transparan….. atau mita tolong TVone melakukan investigasi……
+1
-1

apakah tim admin sudah melakukan investigasi secara mendalam?
+1
-1

Untuk urusan investigasi kasus. Saya mengusulkan rekan Kompasianer asal Tuban Ahmad Zainul Ihsan Arif sebagai Tim Investigator. Dia kayaknya cocok berperan bak detektif…
+1
-1

ya…penonton kecewa, hehehe…tapi kita ambil aja hikmahnya ya,kang…dan seperti kata teman2x yang lain, rencana kebaikan yang sudah kita jalankan, kita teruskan saja kepada mereka2x yang memang betul2x membutuhkan.
+1
-1

Ikhlas, ambil hikmahnya, berbuat lebih baik kedepan untuk rumah sehat kita.
+1
-1

sama seperti bak rosiy, saia tidak terlalu mempermasalahkan tokoh fiktif ini. Untuk masalah buku & yayasan saya rasa bukan hal yang mustahil melihat bahwa sosok Puri walaupun fiktif tetap telah memberikan kita penglihatan baru tentang arti kehidupan dan semangat^^
+1
-1

Kita ambil positifnya saja, walaupun Puri ini tokoh fiktif, tapi semangat untuk mencegah Kanker terutama Kanker payudara terus dilanjut, Sebab Kanker Payudara tidaklah fiktif. Pengobatan lebih mahal daripada pencegahan
+1
-1

Karena emosi membaca tulisan kalau Puri meninggal dunia, anak saya yang kuliah dan kerja di Yogya saya suruh cari informasi se banyak2nya tentang puri termasuk pemakaman concat (condong catur) hari itu ,juga dan ada teman dokter di RS JIH untuk ngecek tapi hasilnya nihil, saya mulai ragu … saya baru percaya kalau puri itu fiktif setelah membaca tulisan teman2.
+1
-1

mudah-mudahan Jim mOrison gak sakit payudara…..
+1
-1

Seia sekata dengan kompasianer yang lain, saya tidak begitu mempersalahkan status akun puri, yaitu fiktif. Hikmah positif dari tulisannya dapat kita lihat secara nyata, mulai dari rencana pembuatan buku dan pendirian yayasan Puri. Bila masih berniat melanjutkan kedua proyek sosial tersebut, akan sangat bagus jika ada obyek yang nyata, saya yakin banyak warga di sekeliling kita yang kurang lebih mengalami perihal yang sama dengan yang diceritakan Puri. Terimakasih.
+1
-1

Bro n Sis, wes gak usah ribut. Pita Pink tetapo lanjut, buku jalan terus. Tapi agar kejadian serupa tidak terulang ada baiknya, syarat jadi Kompasioner diperketat. Pake ID KTP/SIM/Paspor atau apalah yang tidak memungkinkan orang2 yg tidak bertanggung jawab memainkan perannya di Kompasiana. Waduuh, sebagai orang baru, saya terus terang merasa tertohok. Maksud saya kesannya kok jadi mencurigai orang baru. Ehmm, sulusi lain mungkin tiap kota yang kebetulan ada beberapa Kompasioner segera bikin komunitas Kompasiana, atawa admin yg woro2 dulu di kota ini dah ada sekian Kompasioner, jadi kita bisa kopdar dan bikin aturan yg jelas agar kejadian kayak Puri tak lagi berulang, Maklum, dunia nyata aja banyak yg fiktif, apalagi dunia maya, duuuh sangat prihatin!
+1
-1

cihuy, ketemu neh : http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/11/dibalik-ceritapuri/#comments
+1
-1

ternyata tokoh di balik puri itu adalah Fuad Mushofa dan Ommand Abdurrahman…….!!!!
+1
-1

dari kebohongan belum terungkap sampe ketauan begini tetap saja banyak komen ttg si Puri.
+1
-1

aneh tapi nyata, itulah kehidupan baik yang di dunia nyata maupun di dunia maya ya….
saya baru saja punya akun di kompasiana gara2 dikompori oleh seniorku
niatannya hanya kepingin menyebarkan virus menulis
cuma kebetulan saja saya pasien kelainan darah bawaan
yang masih mencoba terus berjuang
mempertahankan selembar nyawa ini
salam kreatif
pipiet senja
+1
-1

bicara soal kanker, aku… menemani hidup penderita kanker… tiga tahun. bagaimana hidup, pola hidup, pandangan tentang hidup, tahu persis… sampai menghembuskan napas terakhir di depan mataku, kupegang tangannya saat ia bilang, “Mas… capek… capek napas!” lho, wong urip kok capek napas. tapi ia relakan napas terakhir tepat jam 21 tanggal 4 April 1999 di IGD RS Ciptomangunkusumo. nanti aku dibilang cerita tanggapanku fiktif juga karena aku penulis, seniman yang suka ngarang. padahal sampai detik ini… aku tidak mampu melukiskannya dalam bentuk cerita, sebab… terasa sesak dan di dada… turut merasakan penderitaannya. Salam hangat buat semuanya dan terus berjuang.
+1
-1

kadang, dari musibah… lahir pencerahan dan anugerah… siapa tahu, dari kasus Puri justru membuka jiwa kita lebih hidup selama napas berembus. Kita pelihara yang positif seperti halnya kita nonton Harry Potter yang banyak nyangka ada bener, atau sandiwara radio Mak Lampir yang sangat dipercaya ada… padahal khayal… seperti halnya jabat erat peluk hangat di jagad maya ini…. Peluk hangatku buat semua seniorku di Kompasiana, aku merindukan kalian… seperti halnya kalian merindukanku walaupun tidak harus bertemu untuk sekedar berjamu. Aku menulis ini… kembali haru, mengingat penderita kanker itu! mataku merembang kembali… dan air mataku meluncur di pipi saat kuakhiri tulisan ini.
+1
-1
Guest User